Jumat, 19 Agustus 2016

[Book Review] Dua Belas Pasang Mata - Sakae Tsuboi


Judul: Dua Belas Pasang Mata
Penulis: Sakae Tsuboi
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal:  248 Halaman
ISBN: 978-602-03-0024-5
Sinopsis: Sebagai guru baru, Bu Guru Oishi ditugaskan mengajar di sebuah desa nelayan yang miskin. Di sana dia belajar memahami kehidupan sederhana dan kasih sayang yang ditunjukkan murid-muridnya. Sementara waktu berlalu, tahun-tahun yang bagai impian itu disapu oleh kenyataan hidup yang sangat memilukan. Perang memorak-porandakan semuanya, dan anak-anak ini beserta guru mereka mesti belajar menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

***
Bu Guru Oishi adalah seorang guru yang baru saja tamat dari sekolah guru di kota yang kemudian ditugaskan di sebuah sekolah dasar terpencil di desa nelayan yang miskin. Setiap hari dia harus menempuh jarak delapan kilometer dari rumahnya untuk sampai ke sekolah. Beruntung ia menggunakan sepeda yang ia kredit dari seorang temannya di kota, jadi dia bisa mempersingkat waktu. Meski begitu, tetap saja ia harus berangkat lebih pagi dari rumahnnya. Ia menjadi satu-satunya perempuan yang menggunakan sepeda dan tidak berpakaian kimono seperti pada umumnya di desa nelayan tersebut. Maka jadilah ia terkenal dalam sekejap.

Di sekolah ia mengajar di kelas satu. Di kelas inilah ia bertemu dengan dua belas orang muridnya yang memiliki keunikan tersendiri dan latar belakang yang berbeda-beda. Meskipun pada awalnya kedua belas murid tersebut tidak terlalu antusias dengan guru baru mereka, malah ingin mengerjainya. Tapi, siapa sangka kalau Bu Guru Oishi bisa mengambil hati mereka, bahkan sejak hari pertama mereka berkenalan. Semakin hari mereka semakin dekat. Bu Guru Oishi begitu sabar menghadapi mereka. Ia tidak lelah untuk selalu lebih dekat setiap harinya kepada murid-muridnya. Sebisa mungkin Bu Guru Oishi juga harus mengenal orang tua para muridnya. Bu Guru Oishi juga mengajar di kelas musik dan anak-anak sangat suka. Mereka hafal lagu-lagu yang diajarkan dan selalu bersemangat tiap jam pelajaran musik dimulai.

Awalnya Bu Guru Oishi berniat menjadi guru di SD terpencil tersebut hanya untuk sementara, maksimal satu tahun saja. Seperti yang dijanjikan oleh kepala sekolah. Setelah itu ia bisa pindah ke sekolah utama yang tidak berada di pelosok. Bu Guru Oishi tidak ingin selamanya mengajar di tempat terpencil yang seperti tidak memiliki masa depan tersebut. Ia hanya berusaha melaksanakn tugas pertamanya di sana degan baik lalu pergi secepatnya.

Tak disangka, Bu Guru Oishi jatuh hati pada kedua belas pasang mata yang ada di kelas satu tersebut. Para murid pertamanya. Begitupun dengan para murid tersebut. Bu Guru Oishi menjadi guru kesayangan mereka. Bu Guru Oishi telah membawa warna baru dalam kehidupan mereka. Hal ini terbukti ketika Bu Guru Oishi sakit dan tidak bisa mengajar selama berhari-hari, para muridnya memberanikan diri menempuh perjalanan delapan kilo meter untuk menjenguk Bu Guru Oishi di rumahnya. Ini membuat Bu Guru Oishi, bahkan semua orang terharu. 

Kehidupan memang tidak pernah selalu menjanjikan bahagia. Sejak awal kehidupan para murid dan keluarga mereka di desa terpencil tersebut tidaklah penuh bahagia. Bisa makanpun syukur. Perang meledak di Jepang dan berdampak bagi desa mereka. Bencana kelaparan nyaris menerpa desa mereka. Hidup terasa semakin sulit. Para murid tersebut tumbuh di tengah suasana perang Jepang dan carut marutnya kehidupan. Bu Guru Oishipun bertambah tua, sampai ia menikah dan punya anak. Meski begitu ia tetap mengajar di sekolah terpencil di desa tersebut. 

Seperti apa akhir dari kisah Bu Guru Oishi dan dua belas pasang mata muridnya?

Saya selalu suka tema pendidikan yang dituangkan ke dalam sebuah cerita. Kisah ini menarik untuk disimak. Kisah seorang guru yang akhirnya jatuh cinta pada pekerjaannya dan murid-muridnya. Intinya, ketika melakukan sesuatu harus dengan hati, pasti akan menghasilkan banyak kebaikan di kemudian hari. Itulah pelajaran berharga dari kisah di buku ini.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar