Senin, 25 Juli 2016

[Book Review] Little Women - Louisa May Alcott


Judul :
 Little Women 
Penulis : Louisa May Alcott
Penerjemah : Annisa Cinantya dan Widya Kirana
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 378 Halaman
ISBN : 978-602-03-1036-7
Sinopsis : "Kisah kehidupan keluarga March yang mempunyai empat orang putri, tinggal di daerah Concord, Amerika Serikat pada abad ke-19. Meg yang cantik, Jo yang tomboi, Beth yang rapuh, dan Amy yang artistik. Bersama Laurie, pemuda tetangga yang menjadi teman mereka sejak kecil, keempat gadis ini berusaha meraih impian masing-masing di tengah kondisi keluarga yang berat dan tengah ditinggal sang ayah yang harus ikut berperang."
***
Buku ini membawa kisah tentang empat orang anak perempuan dari keluarga March. Mereka adalah Meg, Jo, Beth, dan Amy (secara berurutan dari anak pertama sampai terakhir). Ibu mereka, Mrs. March biasa dipanggil Marmee oleh anak-anaknya. Marmee berprofesi sebagai pekerja sosial di sebuah Panti. Mereka sekeluarga tinggal bersama di sebuah rumah di daerah Conrod, Amerika Serikat dengan setting abad ke-19. Sang ayah tidak bersama mereka karena sedang ikut berperang. Selain itu ada Hannah yang menjadi tukang masak di rumah mereka, ketika Marmee pergi bekerja. Meski begitu Hannah tidak tinggal bersama mereka, Hannah hanya datang untuk memasak.
Meg berumur 17 tahun dan Jo berumur 15 tahun. Keduanya memutuskan untuk bekerja, meskipun Marmee tidak menyuruh ataupun memaksa mereka. Keduanya bekerja untuk mendapatkan uang jajan tambahan sendiri dan untuk tahu arti kerja keras karena keluarga mereka tidaklah kaya. Pekerjaan yang mereka lakukanpun bukanlah pekerjaan yang berat untuk anak seusia mereka. Meg bekerja menjadi babbysitter di rumah keluarga kaya, ia hanya perlu menjaga anak-anak ketika bermain. Sedangkan Jo bekerja di rumah bibi March - yang merupakan saudara ayahnya. Bibi March adalah orang yang sudah tua, Jo hanya bertugas menemaninya ataupun membacakannya buku. Di rumahnya, Bibi March mempunyai sebuah perpustakaan dengan koleksi yang luar biasa. Hal inilah yang membuat Jo bertahan di rumah bibi March - meskipun bibi March sangatlah cerewet, karena Jo sangat menggemari buku. Beth memilih belajar di rumah, sedangkan Amy bersekolah di sekolah khusus perempuan di dekat rumahnya. 
Ke-empat gadis tersebut memilliki keunikan masing-masing, dengan hobi dan kesukaan yang berbeda. Mereka digambarkan sebagai anak yang penurut dan penuh kasih sayang. Mereka saling mendukung antara satu sama lain, belajar bersama dan saling membantu. Marmee mengajarkan nilai-nilai dasar tersebut dengan lembut. Marmee jugamengajarkan mereka untuk memiliki jiwa sosial, ini digambarkan pada cerita dimana mereka menyumbangkan sarapan mereka untuk keluarga di seberang jalan yang sudah tidak memiliki makanan. Padahal mereka sendiri juga bukanlah keluarga kaya. Tapi mereka tetap merasa bahagia karena mereka saling memiliki. Kehadiran Laurie, seorang pemuda yang merupakan cucu dari kakek kaya yang menjadi tetangga mereka menambah semarak kisah mereka. Berbagai macam petualangan dan tingkah khas anak-anak mereka lakukan bersama. Laurie menjadi teman bermain mereka yang sangat menyenangkan. Kehidupan mereka bukannya tanpa masalah, tapi cara mereka tiap kali memecahkan masalahlah yang luar biasa. Marmee seorang ibu yang sangat bijaksana, telah membantu putri-putrinya tumbuh dengan baik melalui nasihat dan bimbingannya. 
"Ya, Aku ingin kalian menyadari bahwa kenyamanan kita bergantung pada apakah setiap orang melakukan bagian tugasnya dengan sungguh-sungguh." ~Hal. 189~
Ini adalah pertama kalinya saya membaca kisah klasik yang ditulis Louissa May Alcott, dan yaa saya benar-benar tidak menyesal. Buku ini berisi banget nasihat-nasihatnya luar biasa. Melihat potret empat bersaudara tersebut bikin malu sama diri sendiri yang kadang egoisnya nggak ketulungan -__- . Melihat Marmee yang bijaksana bikin saya pengen seperti Marmee jika kelak saya jadi seorang ibu. Saya paling suka di bagian ketika Marmee menceritakan kepada Jo bagaimana ia selalu -dari dulu hingga kini- belajar untuk meredam amarahnya tiap kali melihat sesuatu yang tidak beres atau sedang kesal dengan anak-anaknya. Dan itu juga dibantu oleh ayah anak-anaknya. 
"....menunjukkan bahwa aku harus mempraktikkan semua kebaikan yang ingin kulihat dalam diri anak-anakku, karena akulah panutan mereka. Melakukan sesuatu demi kalian terasa lebih mudah ketimbang demi diriku sendiri. Saat aku berbicara dengan tajam, ekspresi takut atau terkejut di wajah salah satu dari kalian menghardikku lebih keras daripada kata-kata apa pun. Sementara, cinta, rasa hormat, dan rasa percaya dari anak-anakku adalah hadiah terindah yang bisa kuterima setelah usaha yang kukerahkan untuk menjadi wanita yang dapat mereka teladani." ~Hal. 132~
Meskipun edisi yang saya baca ini tulisannya kecil dan bikin mata sakit, tapi bisa dimaafkan karena bukunya berisi. Fix deh ngefans sama Mrs. March dan keempat putrinya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar