Minggu, 06 Maret 2016

[Book Review] Where Rainbows End (Di Ujung Pelangi) - Cecelia Ahern

Judul                : Where Rainbows End (Di Ujung Pelangi
Penulis             : Cecelia Ahern
Halaman          : 630 Halaman
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
ISBN               : 978-979-22-9789-8
Kategori          : Novel


From: Azmi
To: Rosie
Subject: Terim Kasih!

Dear Rosie, 
Terima kasih sudah mengizinkanku untuk ikut membaca semua surat dan chattinganmu dengan orang-orang tersayangmu. Aku jadi tahu bagaimana tabah dan kuatnya dirimu sebagai seorang anak, ibu, saudara dan sahabat. Kamu pribadi yang penuh kejutan dan menyenangkan. Aku senang akhirnya kamu menemukan kebahagianmu sendiri.

Salam,
Azmi



Ini adalah kisah kehidupan Rosie dan Alex. Mereka adalah dua orang yang sudah bersahabat sejak kecil. Mereka bertetangga, mereka satu sekolah dan satu bangku. Sejak kecil mereka selalu bersama, melakukan banyak hal bersama. Tidak ada yang tidak diketahui Rosie tentang Alex dan begitupun sebaliknya. Rosie dan Alex berpisah ketika mereka di tahun terakhir sekolah menengah atas karena Alex harus pindah ke Amerika lantaran orang tua Alex yang pindah tugas ke sana. Dari situ semakin banyak hal mengejutkan yang muncul di kehidupan mereka berdua. Kadang kala mereka harus menjalani kehidupan mereka masing-masing tanpa harus saling memberi kabar. Tetapi kekuatan persahabatan di antara mereka nyatanya tidak bisa dipisahkan. Sesibuk apapun dengan kehidupan pribadi masing-masing mereka selalu saling memberi kabar lewat email ataupun surat.

Namun ada perubahan yang secara perlahan masuk dalam kehidupan mereka, yaitu cinta. Terdengar klise memang, kisah persahabatan yang berujung cinta. Tetapi percayalah perjalanan mereka menuju cinta itu tidaklah biasa. Ini adalah buku kedua Cecelia Ahern yang say abaca dan ya saya jatuh hati sekali lagi pada Ahern. Humornya, sarkasmenya, romantismenya dan pemikiran-pemikirannya selalu membuat saya jatuh hati. Saya yang suka cerita romance tentu saja langsung suka pada cerita Ahern kali ini. Ada kalimat Rosie yang ia tulis di dalam suratnya kepada Alex yang menjadi salah satu favorit saya. Ini adalah perasaan Rosie terhadap suaminya.

“Aku tahu sulit bagi orang lain memahami bagaimana dia sebenarnya. Yang bisa kaulihat hanyalah sikap paranoidnya yang terlalu ingin melindungi. Tapi, ya Tuhan, sikap itu justru membuatku merasa aman dan diinginkan. Dan ketololannya membuatku tertawa! Masih dibutuhkan waktu lama bagi kami menjadi pasangan sempurna. Jelas, pernikahan kami tak seindah pernikahan dalam dongeng, dia tidak menghujaniku dengan kelopak mawar dan menerbangkanku ke Paris untuk libur akhir pecan, tapi saat aku potong rambut, dia menyadarinya. Saat aku berdandan untuk keluar malam, dia memujiku. Saat aku menangis, dia menyeka air mataku. Saat aku merasa kesepian, dia membuatku merasa dicintai. Dan siapa yang butuh Paris, kalau kau bisa mendapatkan pelukan?”
(di ujung pelangi, halaman 219)


Ada yang unik dari buku ini yaitu penulisan cerita yang dituangkan pada surat-surat dan email yang dikirim oleh tokoh-tokoh yang ada di dalambuku. Bagi saya ini sangat menarik. Alur mundur yang rapi dan gaya cerita yang tidak melulu serius membuat buku ini semakin menarik bagi saya. Saya tidak ingin cepat-cepat menyelesaikan cerita di buku ini karena saya terkesima pada dialog-dialog dan kalimat-kalimat dalam surat-surat mereka. Membuat saya mengkerut, tersenyum, tertawa dan bersedih. Lengkap. Kisah romance biasa yang dituangkan dengan cara yang tidak biasa. 

Selamat membaca kisah Rosie dan Alex.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar