Rabu, 09 November 2016

[Book Review] For One More Day (Satu Hari Bersamamu) - Mitch Albom


Judul: For One More Day (Satu Hari Bersamamu)
Penulis: Mitch Albom
Penerjemah: Olivia Gerungan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal:  248 Halaman
ISBN: 978-602-03-3340-3
Sinopsis: For One More Day adalah kisah tentang seorang ibu dan anak laki-lakinya, kasih sayang abadi seorang ibu, dan pertanyaan berikut ini: Apa yang akan kau lakukan seandainya kau diberi satu hari lagi bersama orang yang kau sayangi, yang telah tiada?
Ketika masih kecil, Charley Benetto diminta untuk memilih oleh ayahnya, hendak menjadi “anak mama atau anak papa, tapi tidak bisa dua-duanya”. Maka dia memilih ayahnya, memujanya –namun sang ayah pergi begitu saja ketika Charley menjelang remaja. Dan Charley dibesarkan oleh ibunya, seorang diri, meski sering kali dia merasa malu akan keadaan ibunya serta merindukan keluarganya yang utuh.
Bertahun-tahun kemudian, ketika hidupnya hancur oleh minuman keras dan penyesalan, Charley berniat bunuh diri. Tapi gagal. Dia justru dibawa kembali ke rumahnya yang lama dan menemukan hal yang mengejutkan. Ibunya –yang meninggal delapan tahun silam –masih tinggal di sana, dan menyambut kepulangannya seolah tak terjadi apa-apa.

***
Charley Benneto mengalami kegagalan dalam hidup. Menjadi lebih parah ketika ibunya meninggal. Karir dan keluarganya hancur. Ia hidup dalam penyesalan, yang diperparah dengan ketergantungannya pada minuman keras. Hingga pada akhirnya ia berniat untuk bunuh diri.

Namun siapa sangka ketika niat untuk bunuh dirinya semakin kuat ia justru dibawa kembali ke rumah masa kecilnya. Secara mengejutkan ia bertemu dengan ibunya yang meninggal delapan tahun silam, masih tinggal di rumah tersebut dan menyambut kedatangan Charley. Seolah tidak terjadi apa-apa.


Penasaran kan apa yang terjadi ketika mereka bertemu? 

Pertemuan Charley dengan ibunya memberikan Charley pandangan dan pemahaman baru tentang ibunya. 

***
Bagi saya kisah ini sangat menyentuh, bagaimana tidak jika kasih sayang seorang ibu kepada anaknya tergambarkan dengan jelas. Meski sang anak kadang merasa malu dengan ibunya, merasa menjadi beban. Terkadang sang anak tak membela ibunya. Rasa haru mengaduk-ngaduk hati saya baca kisah ini. Kisah ini mengingatkan saya bahwa perjuangan seorang ibu memang tiada batasnya. Kalian harus baca sendiri kisah ini.

Minggu, 06 November 2016

[Random Post] Bangkit Dari Reading Slump Di November Rain

timbunan yang akan saya babat bulan ini ......*rencana*


Entah apa sebab musababnya sehingga di Oktober yang lalu tidak ada satupun buku yang saya baca hingga tuntas. Rasanya malas sekali membaca. Buku yang saya baca terasa sangat tidak menarik, padahal dulu ketika membelinya saya menggebu-gebu bahagia. Baru baca satu halaman sudah bosan. Mending sih kalau cuma bosan, lah ini berasa ngantuk juga. Maka jadilah saya kebanyakan tidur. Parah bet. Obralan buku yang dishare teman-teman BBI pun nggak ngaruh sama saya. Saya nggak berminat buat bikin WL dan nitip sama mereka....huft. Pokoknya males!

Bisa dikatakan saya mengalami reading slump atau reader's block. Ini bukan hal baru sih, karena ini adalah hal biasa yang dialami orang-orang yang biasanya suka membaca tapi tiba-tiba merasa bosan sama buku bacaan. Dan inipun bukan pertama kalinya saya mengalami reading slump. Tapi kali ini terasa sekali malasnya, target bacaan tahun ini kayaknya nggak akan terpenuhi....hiks.

Tapi, kabar bagusnya di November rain ini saya bertekad untuk bangkit dari reading slump. Berawal dari kunjungan saya ke toko buku untuk cuci mata sekaligus cari buku incaran. Sudah lama sekali rasanya nggak main ke toko buku. Meskipun buku yang dibawa pulang berbeda dengan buku yang saya inginkan *lagu lama* -tapi nggak apa-apa deh. Tetap seneng nenteng buku baru, penulis favorit lagi. Selain itu saya memilih beberapa timbunan untuk dibaca. Kasian mereka terlalu lama tertimbun. Setelah saya pikir-pikir, main ke toko buku dan membaca buku penulis favorit bisa menghilangkan reading slump. Seenggaknya jadi tergerak dan semangat untuk membaca lagi.

Semoga konsisten deh ya, happy reading!

Kamis, 06 Oktober 2016

[Book Review] Tuesday With Morrie (Selasa Bersama Morrie) - Mitch Albom


Judul: Tuesday With Morrie (Selasa Bersama Morrie, Pelajaran Tentang Makna Hidup)
Penulis: Mitch Albom
Penerjemah: Alex Tri Kantjono Widodo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal:  209 Halaman
ISBN: 978-602-03-0681-0
Sinopsis: Bagi kita mungkin ia sosok orangtua, guru, atau teman sejawat. Seseorang yang lebih berumur, sabar, dan arif, yang memahami kita sebagai orang muda penuh gelora, yang membantu kita memandang dunia sebagai tempat yang lebih indah, dan memberitahu kita cara terbaik untuk mengarunginya. Bagi Mitch Albom, orang itu adalah Morrie Schwartz, seorang mahaguru yang pernah menjadi dosennya hampir dua puluh tahun yang lampau.

***
Ini adalah sebuah kisah yang ditulis oleh Mitch Albom berdasarkan kisah nyata yang telah ia alami. Di buku ini ia menulis tentang seorang mahaguru yang begitu spesial baginya, dialah Morrie Schwartz. Morrie adalah dosen Mitch Albom ketika ia kuliah di Brandeis University. Sejak hari kelulusannya Mitch Albom tidak pernah bertemu dengan Morrie. Mitch sibuk dengan dunianya sendiri yang sedang ia bangun, ia sibuk mengejar karir. Hingga suatu ketika, setelah hampir 20 tahun kemudian Mitch melihat tayangan televisi yang menampilkan sosok Morrie yang sedang menderita sakit. Morrie sedang sekarat, ia tak punya banyak waktu lagi. Mitch terguncang melihat tayangan itu. Otaknya langsung menghadirkan memori bersama Morrie yang pernah ia lalui. Mengingatkannya pada sosok Morrie yang penuh kebijaksanaan, sabar dan bersahabat.

Morrie menderita sebuah penyakit langka yang tidak ada obatnya. Dokter memvonis bahwa ia tidak akan bisa hidup lebih lama lagi. Setiap hari penyakit tersebut akan merampas gerak-geriknya, akan mematikan syarafnya, akan melumpuhkannya, dan pada akhirnya akan membuat ia terbujur kaku hingga dibawa ke pemakaman. Entah mengapa Mitch merasa perlu untuk meluangkan waktu bertemu Morrie. Dan tanpa pikir panjang Mitch berangkat menuju kediaman Morrie. Ia tidak menyangka bahwa Morrie masih mengenalnya, masih mengingatnya dengan jelas. Morrie mengingat Mitch sebagai salah satu mahasiswa terbaiknya. Tak hanya Mitch yang datang mengunjungi Morrie tapi banyak lagi yang lainnya, para mitra, para sahabat, teman sejawat. Meskipun begitu hanya Mitch lah yang secara rutin mengunjungi Morrie setiap minggu, di hari selasa. Setiap hari selasa mereka bertemu dan saling berbicara. Mereka berbicara tentang banyak hal. Mitch menyebutnya dengan kuliah tentang makna hidup. Mitch menuliskannya menjadi sebuah buku sebagai kenang-kenangan atas pertemuan mereka di saat-saat terakhir Morrie. Dan untuk mengabadikan perbincangan mereka yang penuh makna.

Meski terserang penyakit dan harus pasrah menerimanya, Morrie memilih untuk bersabar. Ia tidak mau menyalahkan nasib, menyalahkan orang lain apalagi mengutuki diri sendiri. Ia ingin tetap menyampaikan hal baik, tetap ingin memberi apa yang bisa ia berikan kepada orang lain. Dan ia dengan senang hati menerima Mitch di rumahnya. Berbicara tentang makna hidup. Ada 14 kali selasa yang mereka lalui sebelum Morrie menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Mereka berbicara tentang banyak hal, mulai dari tentang dunia, keluarga, penyesalan, kematian, emosi, uang, perkawinan, budaya, tentang maaf, sampai mengucapkan perpisahan. Semuanya penuh makna.

Bisa dikatakan saya speechless membaca buku ini. Buku ini bagus banget, sangat berisi. Hati saya menghangat membaca paragraf demi paragrafnya. Saya mengangguk setuju tiap kali selesai membaca setiap babnya. Kalian harus membaca buku ini untuk tahu betapa apa yang dibicarakan di buku ini begitu berharga. Saya membayangkan jika saya sedang berbicara dengan Morrie dan mendengarkan kuliahnya secara langsung. Hingga ajalnya menjelang Morrie tetap dicintai oleh orang-orang yang mengenalnya, dikelilingi istri dan anak-anaknya, banyak yang bersedih dan kehilangan dirinya.

Hal paling penting dari setiap hal yang ditulis dalam buku ini adalah, jadilah orang yang tulus dalam memberi. Setiap kebaikan yang telah kau lakukan akan kembali kepadamu. Terima kasih Morrie telah memberikan pelajaran tentang makna hidup.

Minggu, 04 September 2016

[Book Review] Girls In The Dark - Akiyoshi Rikako


Judul: Girls In The Dark
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerjemah: Andry Setiawan
Penerbit: Penerbit Haru
Tebal:  279 Halaman
ISBN: 978-602-7742-31-4
Sinopsis: Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati. Di tangannya ada setangkai bunga lily.

Pembunuhan? Bunuh diri?
Tidak ada yang tahu.
Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis canti berkarisma itu.

Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi ......

***

Penasaran nggak sih baca sinopsisnya yang seperti itu?. Kalau kamu juga penasaran maka kita sama. Buku ini adalah hadiah dari mas Andry sendiri (penerjemah sekaligus tim penerbit haru), yang waktu itu bagi-bagi buku buat BBI Jogja. Asyik dapet gratisan deh *ups. Bisa dibilang buku ini adalah buku pertama dari penerbit haru yang saya miliki. Sebelumnya nggak pernah beli bukunya haru, hiks. Awalnya lihat buku ini berasa horror, saya agak takut-takut buat baca. Maklum saya paling males baca genre horror. Tapi akhirnya saya beranikan diri juga buat baca buku ini. 

Jadi, buku ini menceritakan tentang misteri kematian ketua klub sastra di sebuah sekolah khusus perempuan bernama Shiraishi Itsumi. Itsumi adalah putri dari donatur utama sekolah. Membuat ia menjadi terkenal di seantero sekolah. Tapi tidak hanya itu yang membuat ia terkenal, kecantikan dan wibawa yang dimilikinyalah yang membuat ia semakin terkenal. Itsumi memiliki seorang sahabat karib yang juga satu sekolah dengannya yaitu Sumikawa Sayuri. Itsumi dan Sayuri terkenal sebagai sepasang sahabat yang saling melengkapi. Dimana ada Itsumi disitu ada Sayuri.

Itsumi menggagas pendirian kembali klub sastra di sekolahnya. Dulu klub ini masih ada tapi karena kekurangan peminat maka dibubarkan. Dan Itsumi ingin membangunnya kembali sebagai karena ia sendiri juga menyukai sastra. Akhirnya klub sastra dibuka kembali dengan Itsumi sebagai ketua klub dan Sayuri sebagai wakilnya. Klub sastra ini bisa dibilang eksklusif karena hanya beranggotakan delapan orang termasuk Itsumi. Dan semua anggota dipilih langsung oleh Itsumi. Mereka menempati sebuah Salon (semacam ruangan tempat berkumpul) yang diberikan oleh Ayah Itsumi dengan fasilitas super lengkap dan koleksi buku yang luar biasa. 

Kegiatan klub sastra dan sekolah berjalan seperti biasa sampai terjadi sesuatu yang menggemparkan. Itsumi ditemukan meninggal di sebuah teras di area sekolah dengan setangkai bunga lily di genggamannya. Belum bisa dipastikan apakah Itsumi bunuh diri atau dibunuh. Semuanya menjadi misteri. Seminggu setelah kematian Itsumi klub sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka. Masing-masing angggota membuat sebuah cerpen untuk mengenang Itsumi. Tapi tanpa diduga cerpen yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh Itsumi sebenarnya. Masing-masing dari mereka menjadikan bahwa salah satu dari mereka adalah pembunuh Itsumi. Tapi benarkah pembunuh ada di antara mereka?

Analisis mereka cukup menegangkan dan membuat saya penasaran. Saya jadi tidak sabar menyelesaikan buku ini. Terus.....siapa sebenarnya yang membunuh Itsumi? Terjawabkah?. Sepertinya kalian harus membacanya sendiri.

Buku ini cukup menghibur, apalagi buat yang suka cerita misteri.

Jumat, 02 September 2016

[Book Review] The Five People You Meet In Heaven (Meniti Bianglala) - Mitch Albom


Judul: The Five People You Meet In Heaven (Meniti Bianglala)
Penulis: Mitch Albom
Penerjemah: Andang H. Sutopo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal:  208 Halaman
ISBN: 978-602-03-0656-8
Sinopsis: Eddi bekerja di taman hiburan hampir sepanjang hidupnya, memperbaiki dan merawat berbagai wahana. Tahun-tahun berlalu, dan Eddie merasa terperangkap dalam pekerjaan yang dirasanya tak berarti. Hari-harinya hanya berupa rutinitas kerja, kesepian, dan penyesalan.

Pada ulang tahunnya yang ke-83, Eddie tewas dalam kecelakaan tragis ketika mencoba menyelamatkan seorang gadis kecil dari wahana yang rusak. Ketika terjaga, dia mendapati dirinya di alam baka. Dan ternyata Surga bukanlah Taman Eden yang indah, melainkan tempat kehidupan manusia di dunia dijelaskan lima orang yang telah menunggu. Lima orang yang mungkin orang-orang yang kita kasihi, atau bahkan orang-orang yang tidak kita kenal, namun telah mengubah jalan hidup kita selamanya, tanpa kita sadari.

***
Meninggal secara tragis di hari ulang tahun terdengar sangat menyedihkan bukan?. Itulah yang dialami Eddie yang meninggal di hari ulang tahunnya yang ke 83. Ia meninggal di taman hiburan yang selama ini menjadi tempatnya bekerja. Keinginannya untuk menyelamatkan seorang gadis kecil dari wahana yang rusak telah membawanya ke alam baka. Sejak kecil Eddie telah akrab dengan taman hiburan tempat ia bekerja dan wahana-wahana yang ada di sana. Ayahnya dulu juga bekerja di sana hingga akhir hayatnya. Ayahnyalah yang memperkenalkan taman hiburan tersebut pada Eddie. Hidup Eddie bisa dibilang bahagia sejak kecil hingga dewasa sampai perang merubah hidupnya, selamanya. Perang telah membuat ia pincang, menyisakan kaki yang tidak lagi normal. Sejak saat itu hidup Eddie tidak lagi sama. Meskipun ada Margaruitte, istrinya yang selalu setia mendampinginya tanpa mempersoalkan bagaimana keadaannya. Seharusnya Eddie merasa bahagia tapi nyatanya tidak. Memang ia bahagia dengan limpahan perhatian dan kasih sayang dari istrinya tapi jauh di lubuk hatinya ia merasa tertekan. Perang meninggalkan rasa bersalah dan frustasi yang begitu hebat bagi Eddie. Bekerja di taman hiburan dianggap Eddie sebagai sebuah kutukan. Ia menyalahkan ayahnya atas hal ini. Eddie merasa hidupnya tidak berguna, sampai akhir hayatnya. Ia hanya bertahan tanpa melakukan seuatu yang luar biasa, pikirnya

Kematian menjadi gerbang Eddie memasuki alam baka yang ternyata merupakan lapisan-lapisan dunia lain yang dimana di setiap lapisan tersebut seseorang telah menunggu Eddie. Awalnya Eddie tak mengerti apa yang sedang terjadi padanya, badannya terasa lain, apalagi tempatnya. Dan ia belum menyadari kalau ia ternyata sudah mati. Ada lima orang yang telah menunggu Eddie yang masing-masing berada di setiap lapisan. Orang-orang tersebut adalah orang-orang yang telah ditemui Eddie di dunia. Namun ada juga yang tidak ia kenal tapi kehidupan Eddie tetap bersinggungan dengan orang tersebut. Orang-orang tersebut telah memberi jawaban pada Eddie atas apa yang selama ini ia pertanyakan di dunia. Setiap orang tersebut memberi pelajaran yang berharga.

Kisah Eddie dan lima orang yang ia temui ini berisi pesan yang sangat mendalam. Saya tidak menyangka akan menyukai cerita ini. Meskipun ini fiksi tapi tak ada salahnya mengambil makna yang ada di dalamnya. Bahwa kisah hidup kita itu akan selalu bersinggungan dengan kisah hidup orang lain. Maka berhati-hatilah, meskipun tidak semuanya berarti buruk. Satu lagi yang paling penting adalah jangan pernah menganggap kalau hidup yang kita miliki tidak berarti. Jangan pernah. Selama kita melakukan kebaikan pasti berharga. Sepertinya Mitch Albom akan masuk daftar penulis favorit nih.  


Jumat, 19 Agustus 2016

[Book Review] Dua Belas Pasang Mata - Sakae Tsuboi


Judul: Dua Belas Pasang Mata
Penulis: Sakae Tsuboi
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal:  248 Halaman
ISBN: 978-602-03-0024-5
Sinopsis: Sebagai guru baru, Bu Guru Oishi ditugaskan mengajar di sebuah desa nelayan yang miskin. Di sana dia belajar memahami kehidupan sederhana dan kasih sayang yang ditunjukkan murid-muridnya. Sementara waktu berlalu, tahun-tahun yang bagai impian itu disapu oleh kenyataan hidup yang sangat memilukan. Perang memorak-porandakan semuanya, dan anak-anak ini beserta guru mereka mesti belajar menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

***
Bu Guru Oishi adalah seorang guru yang baru saja tamat dari sekolah guru di kota yang kemudian ditugaskan di sebuah sekolah dasar terpencil di desa nelayan yang miskin. Setiap hari dia harus menempuh jarak delapan kilometer dari rumahnya untuk sampai ke sekolah. Beruntung ia menggunakan sepeda yang ia kredit dari seorang temannya di kota, jadi dia bisa mempersingkat waktu. Meski begitu, tetap saja ia harus berangkat lebih pagi dari rumahnnya. Ia menjadi satu-satunya perempuan yang menggunakan sepeda dan tidak berpakaian kimono seperti pada umumnya di desa nelayan tersebut. Maka jadilah ia terkenal dalam sekejap.

Di sekolah ia mengajar di kelas satu. Di kelas inilah ia bertemu dengan dua belas orang muridnya yang memiliki keunikan tersendiri dan latar belakang yang berbeda-beda. Meskipun pada awalnya kedua belas murid tersebut tidak terlalu antusias dengan guru baru mereka, malah ingin mengerjainya. Tapi, siapa sangka kalau Bu Guru Oishi bisa mengambil hati mereka, bahkan sejak hari pertama mereka berkenalan. Semakin hari mereka semakin dekat. Bu Guru Oishi begitu sabar menghadapi mereka. Ia tidak lelah untuk selalu lebih dekat setiap harinya kepada murid-muridnya. Sebisa mungkin Bu Guru Oishi juga harus mengenal orang tua para muridnya. Bu Guru Oishi juga mengajar di kelas musik dan anak-anak sangat suka. Mereka hafal lagu-lagu yang diajarkan dan selalu bersemangat tiap jam pelajaran musik dimulai.

Awalnya Bu Guru Oishi berniat menjadi guru di SD terpencil tersebut hanya untuk sementara, maksimal satu tahun saja. Seperti yang dijanjikan oleh kepala sekolah. Setelah itu ia bisa pindah ke sekolah utama yang tidak berada di pelosok. Bu Guru Oishi tidak ingin selamanya mengajar di tempat terpencil yang seperti tidak memiliki masa depan tersebut. Ia hanya berusaha melaksanakn tugas pertamanya di sana degan baik lalu pergi secepatnya.

Tak disangka, Bu Guru Oishi jatuh hati pada kedua belas pasang mata yang ada di kelas satu tersebut. Para murid pertamanya. Begitupun dengan para murid tersebut. Bu Guru Oishi menjadi guru kesayangan mereka. Bu Guru Oishi telah membawa warna baru dalam kehidupan mereka. Hal ini terbukti ketika Bu Guru Oishi sakit dan tidak bisa mengajar selama berhari-hari, para muridnya memberanikan diri menempuh perjalanan delapan kilo meter untuk menjenguk Bu Guru Oishi di rumahnya. Ini membuat Bu Guru Oishi, bahkan semua orang terharu. 

Kehidupan memang tidak pernah selalu menjanjikan bahagia. Sejak awal kehidupan para murid dan keluarga mereka di desa terpencil tersebut tidaklah penuh bahagia. Bisa makanpun syukur. Perang meledak di Jepang dan berdampak bagi desa mereka. Bencana kelaparan nyaris menerpa desa mereka. Hidup terasa semakin sulit. Para murid tersebut tumbuh di tengah suasana perang Jepang dan carut marutnya kehidupan. Bu Guru Oishipun bertambah tua, sampai ia menikah dan punya anak. Meski begitu ia tetap mengajar di sekolah terpencil di desa tersebut. 

Seperti apa akhir dari kisah Bu Guru Oishi dan dua belas pasang mata muridnya?

Saya selalu suka tema pendidikan yang dituangkan ke dalam sebuah cerita. Kisah ini menarik untuk disimak. Kisah seorang guru yang akhirnya jatuh cinta pada pekerjaannya dan murid-muridnya. Intinya, ketika melakukan sesuatu harus dengan hati, pasti akan menghasilkan banyak kebaikan di kemudian hari. Itulah pelajaran berharga dari kisah di buku ini.


Jumat, 12 Agustus 2016

[Book Review] Fortunately, The Milk (Untunglah, Susunya) - Neil Gaiman


Judul: Fortunately, The Milk (Untunglah, Susunya)
Penulis: Neil Gaiman
Ilustrator: Skottie Young
Alih Bahasa: Djokolelono
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal:  128 Halaman
ISBN: 978-602-03-1225-5
Sinopsis: “Aku membeli susu,” kata Ayah. “Aku keluar dari toko pojok, dan mendengar suara aneh seperti ini: dhum…dhumm… Aku mendongak, dan kulihat piringan perak besar menggantung di atas Jalan Marshall.”
“Halo,” pikirku. “Itu bukan sesuatu yang kaulihat setiap hari. Lalu sesuatu yang aneh terjadi.”
***
Itu adalah sepenggal kalimat yang ada di buku ini. Siapa yang menyangka kalau ternyata yang mengalami petualangan ajaib nan absurd ternyata si Ayah, bukan si anak. Cerita ini berawal dari hal yang sangat sederhana saja sebenarnya yaitu Ayah yang pergi membeli susu untuk kedua anaknya. Di suatu pagi ibu mereka harus menghadiri konferensi di luar kota dan mengingatkan mereka untuk membeli susu, karena susu di rumah sudah habis. Anaknya ingin sarapan sereal namun tentu saja sarapan sereal tak pernah enak tanpa susu, dan Ayah juga butuh susu untuk campuran tehnya. Kebiasaannya di setiap pagi. Maka berangkatlah sang Ayah menuju toko yang menjual susu.

Sebenarnya toko yang dituju si Ayah dekat saja dari rumah tapi Ayah pulang sangat lama. Sampai kedua anaknya lelah menunggu. Ternyata dalam perjalanan pulang menuju rumah Ayah mengalami petualangan, bertemu piringan perak besar di langit dan dibawa masuk ke dalamnya oleh penghuni piringan tersebut. Kemudian semakin absurdlah petualangan yang dialami Ayah, ia bertemu berbagai macam makhluk aneh lainnya. Meski begitu Ayah tetap memikirkan susu yang ia beli untuk anaknya di rumah. Untunglah susunya tidak jatuh, rusak atau hilang.

Ini adalah petualangan yang absurd memang, penuh imajinasi. Neil Gaiman pasti sedang menjadi seorang anak kecil ketika menulis cerita ini. Benar-benar imajinasi anak-anak. Karena memang cerita ini untuk anak-anak. Tapi tidak ada salahnya dibaca oleh orang dewasa. Santai saja ketika membaca cerita ini, tidak perlu berpikir keras. Apalagi sampai memprotes cerita yang tidak masuk akal di dalamnya. Membacanya cuma butuh waktu 30 menit, maksimal. Cerita ini juga dilengkapi dengan ilustrasi yang keren. Menghibur dan bikin ingat masa kecil.


Rabu, 10 Agustus 2016

[Book Review] Botchan - Natsume Soseki


Judul: Botchan
Penulis: Natsume Soseki
Penerjemah: Indah Sati Pratidina
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal:  217 Halaman
ISBN: 978-602-03-3167-6
Sinopsis: Seperti cerita The Adventures of Huckleberry Finn, Botchan mengisahkan pemberontakan seorang guru muda terhadap "sistem" di sebuah sekolah desa. Sifat Botchan yang selalu terus terang dan tidak mau berpura-pura sering kali membuat ia mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Cerita yang dituturkan secara humoris ini sangat populer di kalangan tua dan muda di Jepang, dan barangkali merupakan novel klasik yang paling banyak dibaca di Jepang modern.
***
Botchan dalam bahasa Jepang bisa dikatakan bermakna "tuan muda", panggilan sopan yang ditujukan untuk anak laki-laki ketika ia masih kanak-kanak yang berasal dari keluarga terpandang. Dalam halaman pengenalan di buku ini telah dijelaskan bahwa kata Botchan di buku ini tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa lain karena kandungan makna di dalamnya. Maka judul buku ini tetaplah menggunakan judul aslinya dalam bahasa Jepang, Botchan.
Botchan dalam kisah ini adalah seorang anak laki-laki dari keluarga yang cukup terpandang. Ia adalah anak kedua dari dua bersaudara, kakaknya juga laki-laki. Di rumahnya juga tinggal seorang pengasuh sekaligus pembantu rumah tangga bernama Kiyo. Kiyo-lah yang selalu memanggil Botchan dengan sebutan Botchan. Kiyo sangat menyayangi Botchan, selalu mendukung Botchan dan selalu berpikir positif tentang Botchan. Meskipun Botchan menurut kebanyakan orang terlalu nakal untuk ukuran anak-anak. Sejak kecil Botchan memang merupakan anak yang selalu melakukan apa yang dia inginkan, dia selalu mau mencoba hal baru, selalu penasaran dan terkadang bertindak semaunya. Hal inilah yang menyebabkan dia dicap nakal oleh orang-orang di sekitarnya, tak terkecuali oleh kakak dan orang tuanya. Ibu Botchan meninggal ketika Botchan masih di sekolah dasar. Sejak itu Ayahnya semakin tidak mempedulikan Botchan dan akhirnya meninggal ketika Botchan remaja. Tinggalah Botchan bersama kakaknya dan Kiyo. Kakak Botchan mendapat tawaran untuk bekerja di luar kota dan menjual rumah mereka. Uang hasil penjualan rumah dibagi dengan Botchan. Botchan menggunakan uang tersebut untuk melanjutkan sekolah ke Sekolah Ilmu Alam Tokyo.
Singkat cerita, luluslah Botchan dari Sekolah Ilmu Alam Tokyo dan mendapat tawaran bekerja menjadi guru matematika di sebuah sekolah menengah di Shikoku dengan gaji 40 yen sebulan. Meskipun sebelumnya Botchan tida punya bayangan akan menjadi guru apalagi mengajar di daerah pedesaan namun pekerjaan tersebut tetap saja ia terima. Jadi berangkatlah ia menju Shikoku yang harus ditempuh dengan menyebrangi lautan dari Tokyo. Di sinilah episode baru kehidupan Botchan dimulai. Ia bertemu kepala sekolah dan para guru yang masing-masing memiliki karakteristik yang bagi Botchan mengganggu. Kebanyakan dari mereka bukanlah orang yang tulus, bertopeng dan penuh intrik. Belum lagi para siswanya yang kelewat nakal, dan dibiarkan saja oleh para guru, apalagi kepala sekolah. Mereka menggunakan lelucon yang menjengkelkan untuk mengolok Botchan (sebagai guru baru). Seperti yang Botchan katakana di halaman 53 “ lelucon adalah lelucon, namun kalau berlarut-lart hasilnya kenakalan”. Botchan juga mengatakan bahwa “ia juga pernah melakukan kejailan saat di sekolah menengah, tapi ketika para guru bertanya siapa yang bertanggung jawab, selayaknya lelaki aku selalu mengakuinya. Kalau kau melakukan sesuatu, kaulah si pelaku; kalau kau tidak melakukannya, berarti kau bukan pelaku. Sesederhana itu” (hal. 66). Hal ini dikatakan Botchan ketika para siswa melakukan kejailan terhadap dirinya tetapi tak satupun dari siswa yang mau mengaku, padahal dengan jelas pelakunya adalah mereka. Inilah yang saya suka dari Botchan, ia selalu jujur dan gentleman. Hanya Kiyolah yang menyadari sifat Botchan ini.
Sifat Botchan yang jujur, selalu berterus terang dan tidak mau berpura-pura ini ternyata tidaklah disukai oleh beberapa rekan kerjanya sesama guru dan kepala sekolah. Botchan ingin dikendalikan oleh rekan kerjanya yang memang tidak mau terganggu oleh kehadiran Botchan yang menentang sistem sekolah yang penuh kecurangan. Saling sikut dan saling menjebak di lingkungan sekolah terjadi. Ini adalah hal yang tidak bisa diterima Bochan. Sebuah sekolah seharusnya menjadi tempat untuk menghasilkan manusia yang semakin baik, semakin bijaksana dan semakin saling menghargai. Selain sibuk menghadapi sekolah yang carut marut, Botchan juga harus menahan rasa rindunya kepada Kiyo, perempuan yang selama ini mengasuhnya. Botchan baru menyadari bahwa betapa ia membutuhkan dan merindukan Kiyo setelah jauh darinya.
Banyak pelajaran dari buku ini yang disampaikan melalui tokoh Botchan. Bahwa jadi orang itu harus jujur, kalau tidak jujur lalu apalagi yang harus dilakukan. Gentleman dalam mengakui kesalahan, tidak bersikap korup dan berintegritas tinggi. Kalimat-kalimat sarkas yang penuh humor menjadi kekuatan cerita ini. Penuh makna dan menghibur.

Senin, 25 Juli 2016

[Book Review] Little Women - Louisa May Alcott


Judul :
 Little Women 
Penulis : Louisa May Alcott
Penerjemah : Annisa Cinantya dan Widya Kirana
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 378 Halaman
ISBN : 978-602-03-1036-7
Sinopsis : "Kisah kehidupan keluarga March yang mempunyai empat orang putri, tinggal di daerah Concord, Amerika Serikat pada abad ke-19. Meg yang cantik, Jo yang tomboi, Beth yang rapuh, dan Amy yang artistik. Bersama Laurie, pemuda tetangga yang menjadi teman mereka sejak kecil, keempat gadis ini berusaha meraih impian masing-masing di tengah kondisi keluarga yang berat dan tengah ditinggal sang ayah yang harus ikut berperang."
***
Buku ini membawa kisah tentang empat orang anak perempuan dari keluarga March. Mereka adalah Meg, Jo, Beth, dan Amy (secara berurutan dari anak pertama sampai terakhir). Ibu mereka, Mrs. March biasa dipanggil Marmee oleh anak-anaknya. Marmee berprofesi sebagai pekerja sosial di sebuah Panti. Mereka sekeluarga tinggal bersama di sebuah rumah di daerah Conrod, Amerika Serikat dengan setting abad ke-19. Sang ayah tidak bersama mereka karena sedang ikut berperang. Selain itu ada Hannah yang menjadi tukang masak di rumah mereka, ketika Marmee pergi bekerja. Meski begitu Hannah tidak tinggal bersama mereka, Hannah hanya datang untuk memasak.
Meg berumur 17 tahun dan Jo berumur 15 tahun. Keduanya memutuskan untuk bekerja, meskipun Marmee tidak menyuruh ataupun memaksa mereka. Keduanya bekerja untuk mendapatkan uang jajan tambahan sendiri dan untuk tahu arti kerja keras karena keluarga mereka tidaklah kaya. Pekerjaan yang mereka lakukanpun bukanlah pekerjaan yang berat untuk anak seusia mereka. Meg bekerja menjadi babbysitter di rumah keluarga kaya, ia hanya perlu menjaga anak-anak ketika bermain. Sedangkan Jo bekerja di rumah bibi March - yang merupakan saudara ayahnya. Bibi March adalah orang yang sudah tua, Jo hanya bertugas menemaninya ataupun membacakannya buku. Di rumahnya, Bibi March mempunyai sebuah perpustakaan dengan koleksi yang luar biasa. Hal inilah yang membuat Jo bertahan di rumah bibi March - meskipun bibi March sangatlah cerewet, karena Jo sangat menggemari buku. Beth memilih belajar di rumah, sedangkan Amy bersekolah di sekolah khusus perempuan di dekat rumahnya. 
Ke-empat gadis tersebut memilliki keunikan masing-masing, dengan hobi dan kesukaan yang berbeda. Mereka digambarkan sebagai anak yang penurut dan penuh kasih sayang. Mereka saling mendukung antara satu sama lain, belajar bersama dan saling membantu. Marmee mengajarkan nilai-nilai dasar tersebut dengan lembut. Marmee jugamengajarkan mereka untuk memiliki jiwa sosial, ini digambarkan pada cerita dimana mereka menyumbangkan sarapan mereka untuk keluarga di seberang jalan yang sudah tidak memiliki makanan. Padahal mereka sendiri juga bukanlah keluarga kaya. Tapi mereka tetap merasa bahagia karena mereka saling memiliki. Kehadiran Laurie, seorang pemuda yang merupakan cucu dari kakek kaya yang menjadi tetangga mereka menambah semarak kisah mereka. Berbagai macam petualangan dan tingkah khas anak-anak mereka lakukan bersama. Laurie menjadi teman bermain mereka yang sangat menyenangkan. Kehidupan mereka bukannya tanpa masalah, tapi cara mereka tiap kali memecahkan masalahlah yang luar biasa. Marmee seorang ibu yang sangat bijaksana, telah membantu putri-putrinya tumbuh dengan baik melalui nasihat dan bimbingannya. 
"Ya, Aku ingin kalian menyadari bahwa kenyamanan kita bergantung pada apakah setiap orang melakukan bagian tugasnya dengan sungguh-sungguh." ~Hal. 189~
Ini adalah pertama kalinya saya membaca kisah klasik yang ditulis Louissa May Alcott, dan yaa saya benar-benar tidak menyesal. Buku ini berisi banget nasihat-nasihatnya luar biasa. Melihat potret empat bersaudara tersebut bikin malu sama diri sendiri yang kadang egoisnya nggak ketulungan -__- . Melihat Marmee yang bijaksana bikin saya pengen seperti Marmee jika kelak saya jadi seorang ibu. Saya paling suka di bagian ketika Marmee menceritakan kepada Jo bagaimana ia selalu -dari dulu hingga kini- belajar untuk meredam amarahnya tiap kali melihat sesuatu yang tidak beres atau sedang kesal dengan anak-anaknya. Dan itu juga dibantu oleh ayah anak-anaknya. 
"....menunjukkan bahwa aku harus mempraktikkan semua kebaikan yang ingin kulihat dalam diri anak-anakku, karena akulah panutan mereka. Melakukan sesuatu demi kalian terasa lebih mudah ketimbang demi diriku sendiri. Saat aku berbicara dengan tajam, ekspresi takut atau terkejut di wajah salah satu dari kalian menghardikku lebih keras daripada kata-kata apa pun. Sementara, cinta, rasa hormat, dan rasa percaya dari anak-anakku adalah hadiah terindah yang bisa kuterima setelah usaha yang kukerahkan untuk menjadi wanita yang dapat mereka teladani." ~Hal. 132~
Meskipun edisi yang saya baca ini tulisannya kecil dan bikin mata sakit, tapi bisa dimaafkan karena bukunya berisi. Fix deh ngefans sama Mrs. March dan keempat putrinya. 

Sabtu, 16 Juli 2016

[Book Review] 3 Cinta 1 Pria - Arswendo Atmowiloto


Judul: 3 Cinta 1 Pria
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 296 Halaman
Kategori: Novel Dewasa

Sinopsis: Bong jatuh cinta pada gadis yang dipanggil Keka. Itu biasa, karena selama ini ada lelaki lain yang juga naksir Keka. Juga biasa, kalau cinta menggebu tapi sekaligus ragu tak berakhir di pernikahan. Yang tak biasa, Keka memberi nama anak perempuannya Keka juga. Ternyata Keka generasi kedua ini tertarik pada Bong, walau hamil dengan lelaki lain. Bong menyelamatkan bayi yang nyaris digugurkan. Bayi itu dipanggil Keka Siang, karena lahirnya siang hari.........
***
Ini adalah cerita tentang Bong, seorang yaa bisa dibilang pelaku seni. Bong adalah seorang pelukis. Tapi tidak hanya itu karena ia mengerjakan pekerjaan seni lainnya seperti membuat barang kerajinan , membuat ilustrasi untuk buku dan bermain teater. Si Bong lelaki normal yang jatuh hati kepada seorang perempuan cantik bernama Keka. Mereka sama-sama jatuh cinta. Keka jatuh cinta pada semua yang ada pada Bong, meskipun Bong dianggap tak punya masa depan oleh orang tua Keka. Cinta mereka menggebu namun teralalu ragu untuk berakhir di pernikahan. Bong terlalu takut untuk mengatakan bahwa ia butuh Keka ada di sisinya. Hingga Keka terpaksa menerima pinangan lelaki lain yang dijodohkan keluarganya. 
Meski begitu, ternyata cinta Keka tak pernah pada untuk Bong. Setelah bertahun-tahun tidak bertemu Keka datang menemui Bong. Satu hal yang paling ingin Keka ketahui dari Bong adalah mengapa Bong tidak mencegah pernikahannya. Dari pernikahannya Keka memiliki anak yang ia beri nama Keka, sama seperti namanya. Ternyata Keka generasi kedua ini jatuh hati juga kepada Bong, yang menyelamatkannya dan bayinya. Bayi Keka generasi kedua diberi nama Keka Siang. Keka Siang ini juga naksir pada Bong ketika ia sudah belasan tahun. Rumit huh?
Awalnya saya tidak paham cerita buku ini menjurus kemana. Tapi setelah dibaca perlahan-lahan akhirnya paham juga. Ini pertama kalinya saya membaca karya Arswendo Atmowiloto dan yaa bagus menurut saya. Banyak sindirannyaaaa. Tentang kehidupan sehari-hari, kehidupan sosial manusia, kehidupan berpolitik. Satu dua pelajaran terbersit di dalamnya. Meskipun saya mikir-mikir mungkin nggak sih tiga generasi begini jatuh hati pada orang yang sama. Cucu sampai saingan sama nenek. Ya ampun. Bong jadi kayak satu-satunya lelaki yang menarik di muka bumi ini. 
Beberapa pemikiran Arswendo di buku ini quoteable banget deh. Saya jadi manggut-manggut ketika membacanya. Misalnya ini:
"Seorang yang membuat Taj Mahal untuk membuktikan cinta, tidak berarti lebih mencintai. Lebih karena bisa mewujudkan dalam tanda dan peringatan. Artinya yang tak mampu membuat monumen bukan berarti tak mencintai sebesar yang bisa membiayai.
~Hal. 92~
".....kalau mereka bisa mengingat yang terbaik. Karena semua cinta itu indah, unik, dan memberikan kebaikan. Mungkin tidak memberikan kebahagiaan, mungkin tidak memberi kepuasan, tapi kebaikan. Selama kita bisa mensyukuri, selama itu kita bisa merasakan."
~Hal. 187~
dan masih banyak lagi yang lainnya. Paling tidak ada pelajaran dalam buku ini, bahwa kita perlu bersyukur untuk tetap merasakan cinta, merasakan kebaikan.