Rabu, 04 November 2015

[Book Review] Pangeran Cilik (Le Petit Prince) - Antonie De Saint-Exupery

Judul                : Pangeran Cilik (Le Petit Prince)
Penulis             : Antonie De Saint-Exupery
Halaman          : 118 Halaman
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
ISBN               : 978-979-22-7964-7

Buku ini tipis, namun penuh makna di dalamnya. Selintas seperti cerita anak-anak, seperti dongeng tetapi ternyata menyindir orang-orang dewasa yang sering luput melihat sesuatu yang dilihat anak-anak. Penulis membahas hal-hal yang begitu dekat dengan manusia seperti sebuah tanggung jawab, kekuasaan, dan kasih sayang. Rasanya setiap kalimat dalam buku penuh makna. Ada makna yang tersurat dan banyak lagi yang tersirat.
Banyak kalimat-kalimat yang menjadi favorit saya dalam buku ini. Seperti ini, ketika seorang raja yang ditemui pangeran cilik berkata:

“Kekuasaan berasaskan akal. Jika kamu menyuruh rakyatmu menceburkan diri ke laut, mereka akan memberontak. Aku berhak menuntut kepatuhan, sebab perintah-perintahku masuk akal.” (hal. 46)
“Mengadili diri sendiri lebih sulit daripada mengadili orang lain. Jika kamu berhasil, berarti kamu betul-betul orang yang bijaksana.” 
(hal. 47)

Hmm….ini membuat saya manggut-manggut.
Tentang persahabatan

“Ada baiknya pernah mempunyai seorang teman, sekalipun kita akan mati.” (hal. 93)
“Manusia, mereka menjejalkan diri ke dalam kereta api kilat, tetapi lupa apa yang mereka cari. Maka itu mereka pontang-panting dan hilir-mudik…” 
(hal. 97)

Dan yang paling favorit adalah:

“Orang mempunyai bintang yang berbeda-beda. Bagi mereka yang berlayar, bintang adalah pemandu. Bagi yang lain, mereka hanya lampu-lampu kecil. Bagi yang lain, para ilmuwan, mereka adalah persoalan. Bagi pengusaha-pengusaha mereka adalah emas. Tetapi semua bintang itu membisu. Kamu akan mempunyai bintang-bintang yang berbeda dengan bintang orang lain…” 
(hal. 106)




Buku ini mengisahkan seorang pangeran cilik yang mendiami sebuah planet kecil bersama tiga gunungapi kecil, domba dan sebuah pohon mawar. Sang pangeran cilik mendatangi beberapa planet untuk mencari jawaban atas mataharinya yang terbenam dan akhirnya ia sampai di bumi. Buku klasik ini sangat recommended untuk dibaca.

Minggu, 01 November 2015

[Book Review] Orang-orang Proyek - Ahmad Tohari

Judul               : Orang-orang Proyek
Penulis            : Ahmad Tohari
Halaman          : 253 Halaman
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Kategori          : Novel

“Aku insinyur. Aku tak bisa menguraikan dengan baik hubungan antara kejujuran dan kesungguhan dalam pembangunan proyek ini dengan keberpihakan kepada masyarakat miskin. Apakah yang pertama merupakan manifestasi yang kedua? Apakah kejujuran dan kesungguhan sejatinya adalah perkara biasa bagi masyarakat berbudaya, dan harus dipilih karena keduanya merupakan hal yang niscaya untuk menghasilkan kemaslahatan bersama?”

sumber gambar: wisegeek.com

Ir. Kabul, seorang lulusan teknik sipil yang sedang menangani proyek pembangunan bendungan di sebuah desa. Ini adalah proyek pemerintah, dan ini adalah proyek ketiga bagi Kabul. Ketika sedang di lapangan, di dalam proyek, ia harus menerima kenyataan bahwa kegiatan proyek jauh dari idealisme yang dia pegang selama ini. Ia adalah mantan aktivis kampus yang sering mengkritik pemerintah. Kejujuran yang selama ia junjung tinggi harus ternodai akibat ulah orang-orang yang terlibat dalam proyek.

Sudah menjadi rahasia umum kalau suatu proyek pemerintah pasti empuk dijadikan sebagai lahan korupsi. Dana proyek dipotong secara diam-diam, mulai dari tingkat atas sampai bawah. Sedangkan pelaksana proyek di lapangan tetap harus membangun proyek tersebut sesuai dengan jadwal semula. Akibatnya kualitas bangunan tidak dapat dipertanggung jawabkan sepenuhnya sesuai dengan ilmu ke-teknik sipil-an. Pada akhirnya rakyatlah yang akan menanggung akibatnya.

Membaca novel ini mengingatkan saya pada seorang teman yang juga seorang sarjana teknik sipil dan sudah sering terlibat dalam proyek pembangunan bendungan milik pemerintah. Cerita yang ia sampaikan kurang lebih sama dengan kisah Kabul. Kisah ini membuat sedih harus menerima kenyataan bahwa hal yang terjadi di dalam sebuah proyek memang nyata dan sudah terjadi sejak dulu.

Ini adalah buku ketiga Ahmad Tohari yang saya baca di bulan ini dan saya tidak pernah merasa rugi membaca karya-karyanya. Kisah ini juga mengungkit orang-orang desa yang berada di sekitar proyek. Kritik kepada pemerintah disampaikan secara nyata di buku ini. Sesekali terselip humor yang membuat buku ini tidak membosankan. Ah ya…proyek bendungan yang dikerjakan Kabul kali ini juga telah mempertemukan ia dengan pasangan hidupnya.


Bacalah!