Selasa, 25 Agustus 2015

[Book Review] The Law of Love (Hukum Seputar Pranikah, Pernikahan, dan Perceraian di Indonesia

Judul              : The Law of Love (Hukum Seputar Pranikah, Pernikahan, dan Perceraian di Indonesia
Penulis           : Aditya P. Manjorang dan Intan Aditya
Penerbit         : Visimedia
Halaman        : 174 Halaman
ISBN              : (13)978-979-065-242-2
Kategori         : Hukum/Lifestyle

PERNIKAHAN akan memberikan sejumlah hak dan kewajiban bagi dua orang yang terikat di dalamnya. Mulai hak dan kewajiban yang bersifat sangat pribadi hingga yang bersinggungan dengan ekonomi. Untuk menjaga agar semua yang terjadi dalam sebuah hubungan mulai pranikah hingga pernikahan berjalan baik, Negara telah melindungi hak dan kewajiban warga negaranya. Langkah-langkah apa yang harus Anda lakukan jika mengalami kekerasan dalam pacaran? Bagaimana cara membuat perjanjian pranikah? Apa yang harus Anda lakukan jika ingin mengurus pernikahan? Langkah-langkah apa yang Anda lakukan jika ingin mengajukan?
*gambar dari belbuk.com

Buku ini termasuk langka lho. Membahas hukum seputar pernikahan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Semuanya dibahas tuntas. Bukan hanya tentang pernikahan tapi juga hal-hal yang ada di dalamnya seperti perjanjian pranikah, perceraian, dan warisan.

Bagian awal buku ini juga membahas tentang kekerasan yang selama ini sering terjadi pada orang yang berpacaran. Kebanyakan orang menutup mata terhadap bentuk-bentuk kekerasan tersebut karena sudah terlanjur cinta, katanya. Padahal hal tersebut sangat merugikan terutama untuk perempuan. Buku ini mengupas dan memberikan solusinya.

Buku ini juga membahas tentang perjanjian pranikah. Perjanjian pranikah memang masih tabu di Indonesia namun buku ini memberikan gambaran yang sangat mudah dimengerti tentang perjanjian pranikah. Hukum seputar pernikahan pun secara lengkap dibahas, mulai dari  usia pernikahan, syarat-syarat pernikahan, pendaftaran ke KUA dan lain sebagainya. Ada lagi pembahasan tentang perceraian di buku ini. Bagaimana perceraian itu bisa terjadi, bagaimana menghadapinya dan kalau mau melakukan gugatan cerai itu seperti apa, semua diberikan panduannya.

Setidaknya buku ini menjadi panduan yang mudahlah bagi kita-kita yang buta banget sama hukum seputar pernikahan dan seluk beluknya. Patut dibaca nih buat kamu yang mau menambah ilmu dan wawasan. Bisa jadi masukan buat diri sendiri dan kamu juga bisa menceritakannya sama orang lain.


Rabu, 12 Agustus 2015

[Book Review] Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi - M. Aan Mansyur

Judul                : Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi
Penulis             : M Aan Mansyur
Halaman          : 260 Halaman
Penerbit           : Gagasmedia
Kategori          : Novel

“Akuu tidak pernah ingin mengucapkan selamat tinggal.
Aku tidak pernah mau beranjak dari masa lalu.”

“Masa lalu, bagiku,
hanyalah masa depan yang pergi sementara.”

Ini adalah kisah tentang Jiwa yang telah berjanji pada diri sendiri bahwa ia tidak akan pernah menikah. Ketika Nanti telah membawa semua cintanya. Meninggalkannya untuk menikah dengan laki-laki lain yang dianggap lebih layak menjadi suaminya oleh keluarganya. Hari pernikahan Nanti adalah hari terburuk dalam hidup Jiwa, seperti ingin mati saja.

Bagaimana mungkin seorang wanita yang selama ini Jiwa cintai sepenuh hati dan telah berkomitmen bersama untuk menikah malah meninggalkannya. Jiwa sudah tidak mampu lagi memberikan cinta pada perempuan lain.

“Kau percaya masa depan masih memiliki kita?”
“Akan selalu ada kita. Aku percaya.”

Kisah ini Jiwa tuliskan sebagai salah satu cara untuk mengungkapkan perasaan dan kisah yang selama ini ia alami. Jiwa mengalami tingkat kegalauan yang semakin tinggi sejak Nanti mengirimkan sebuah surat dengan kalimat aku merindukanmu, sedangkan ia telah bersuami. Jiwa menuliskan banyak hal tentang keluarga, terutama ibunya, tentang perasaan-perasaan, tentang kegagalan dan sedikit kebahagian.

“Tetapi, hidup selalu punya tetapi”

Seperti biasa Aan Mansyur membuat saya tersihir dengan kalimat-kalimat pilihannya dalam kisah yang ia tuliskan ini. Meskipun di bagian awal terasa sediki membosankan. Ini adalah novel pertama Aan yang telah ia tulis sejak bertahun-tahun yang lalu. Saya merasa seperti bahwa kisah yang dituliskan Jiwa adalah kisah Aan Mansyur sendiri. Terasa sangat dekat dengan kehidupan penulis aslinya. Itulah salah satu hal yang membuat saya suka dengan karya Aan Mansyur :)

sumber foto: republikfiksi.com

*empat bintang untuk buku ini
baca buku ini, supaya kau tahu seperti apa lelaki terakhir yang menangis di muka bumi ~~~