Jumat, 23 Januari 2015

Meet and Greet Bareng Bernard Batubara

Kemarin Jumat, 23 Januari 2015 ada sebuah acara seru dari @gagasmedia yaitu Meet and Greet bareng Bernard Batubara @benzbara_ , bertempat di Gramedia Sudirman Jogjakarta. Meet and Greet ini dalam rangka promosi buku terbaru Bara yang diterbitkan oleh gagas berjudul Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri dan cerita-cerita lainnya. Review buku ini telah saya bagi di http://barubukuku.blogspot.co.uk/2015/01/book-review-jatuh-cinta-adalah-cara.html :D. Acara kemarin bertajuk #JatuhCita di Joglosemar, Jogja adalah kota pertama di wilayah Jawa Tengah yang menjadi tempat promosi, kemudian Solo lalu Semarang.

Ini adalah salah satu keuntungan tinggal di sebuah kota besar macam Jogjakarta yang saya sukai, yaitu bisa ikut kegiatan seru tentang kepenulisan. Bisa meet and greet dengan penulis-penulis keren. Jogjakarta adalah salah satu kota yang sangat sering mengadakan acara-acara kepenulisan. Akses untuk mendapatkan informasi terbuka lebar.

Dalam acara meet and greet kemarin Bara hadir bersama mba Widyawati Oktavia @widya_oktavia, mba wid adalah editor Bara di gagas. Banyak hal yang diceritakan Bara dalam acara kemarin. Diawali dengan cerita Bara bahwa buku jatuh cinta adalah buku ke-tujuh Bara sekaligus buku kumpulan cerpen ke-tiga Bara. Ia menyampaikan bahwa ia kesulitan menulis cerita cinta yang berakhir bahagia, ia merasa janggal jika tiba-tiba cerita cinta yang ia tulis harus bahagia atau dipaksakan berakhir bahagia. Buku jatuh cinta memang berisi kisah cinta yang tak melulu manis. Bara menyampaikan bahwa kita cenderung menyembunyikan hal yang tidak kita senangi, hal yang menyakitkan, begitupun tentang cinta. Maka dari itu ia ingin mengungkapkan kalau cinta juga punya sisi yang pahit dan menyakitkan. Bara sampai pada buku ke-tujuh ini sesederhana kegiatan menulis itu sendiri, menulis saja, konsisten menulis, seiring perjalanan banyak yang bisa dipelajari yang dapat menjadikan lebih baik.

Kemudian Bara menyampaikan tentang puisi, cerpen dan novel yang jenis ketiganya pernah ditulis Bara dan diterbitkan dalam bentuk Buku. Yang paling sulit bagi Bara adalah menulis puisi, ia merasa puisi-puisi yang ia tulis masih terlalu gambling, belum tersirat. Masih terlalu mudah untuk ditebak. Tentang cerpen, Bara mengungkapkan bahwa menulis cerpen punya tantangan tersendiri. Kita ditantang untuk menulis dengan baik dalam ruang cerpen yang terbatas. Dalam cerpen kita harus meramu setiap unsurnya secara efektif. Buang yang tidak perlu. Untuk novel sendiri banyak sekali hal-hal yang perlu diperhatikan, tidak hanya ide, namun juga kematangan dalam unsur lainnya seperti tokoh, karakter, alur, setting, narasi, dialog dan lain sebagainya.

Salah satu hal menarik lainnya yang disampaikan Bara adalah tentang pencarian ide. Menurutnya pertanyaan tentang bagaimana mencari ide itu sungguh tidak masuk akal. Ide itu ada dimana-mana, ada di sekitar kita. Hentikan mencari-cari ide yang besar hanya karena tak ingin dikatakan klise karena itu hal yang mustahil. Kita hanya butuh membuat diri kita lebih peka terhadap sekitar begitu. Ketika hal itu kalian lakukan, maka kalian akan merasakan ketika otak kalian kemasukan banyak ide namun kalian tak bisa menuliskannya dengan cepat (ya ampun you know me so well bang, saya juga sering merasakannya :D). Bara bilang karena tak ada yang baru di bawah matahari (lebih lanjut saya tulis di https://uazmiyati.wordpress.com/2015/01/23/tak-ada-yang-baru-di-bawah-matahari/). Yang bisa dieksplore dari sebuah tulisan adalah bukan hanya ide. Yang penting bukan “apanya” tapi “bagaimananya”.

Berdasarkan pertanyaan seorang peserta yang bercerita bahwa ia takut membagi tulisannya, ia hanya menyimpannya sendiri. Bara bilang share tulisanmu, jangan ragu untuk melakukannya. Masukan dari orang lain akan sangat berharga untuk tulisanmu. Itu adalah feedback terbaik yang bisa kita peroleh. Bagi tulisanmu, biarkan orang lain memberi komentarnya. Bukankah dalam hal mengolah ide, pendapat 1000 orang lebih baik dari 1 orang. Bagi pada orang yang sudah menjadi penulis dan orang yang hanya sebagai pembaca biasa.

Selanjutnya Bara memberikan sebuah tips agar gaya menulis kita tak ikut-ikutan penulis tertentu adalah dengan cara membaca banyak buku dari penulis yang berbeda-beda. Itu akan memberi banyak masukan dalam hal teknik, gaya bahasa, diksi dan lain sebagainya. Meskipun pada awalnya kita cenderung akan mengikuti gaya penulis favorit kita. Ketika sedang menjalani proses menulis itu sendiri tinggalkan buku yang kita baca tersebut. Karena ketika kita terlalu terikat dengan buku yang telah kita baca maka kita akan tersendat sendiri, standar kita akan jadi terlalu tinggi hingga dapat menumpulkan kreativitas kita sendiri.

Salah satu pertanyaan menarik yang disampaikan salah satu peserta lainnya adalah bagaiman Bara memandang sebuah buku dari posisi Bara sebagai pembaca, bukan sebagai penulis. Bara mengatakan bahwa bagi dia ketika ia misuh-misuh (ini bahasa jawa, kurang lebih artinya marah-marah atau sebel) setelah membaca sebuah buku maka buku itu bagus. Ia menyesali kenapa buku itu harus berakhir saking bagusnya ia sampai misuh-misuh. Saya juga pernah merasakannya ketika membaca sebuah buku yang menurut saya bagus, hehe… Masih menurut Bara, buku bagus itu harus memberi efek di kepala dan di dada. Buku bagus itu harus membuat kita bertambah pengetahuan dan membekas di hati. Aaah….saya setuju banget dengan hal ini :)).

yeay foto dengan penulisnya langsung :D

Kurang lebih itulah beberapa hal yang disampaikan Bara pada meet and greet kemarin, semoga bermanfaat. Selamat menulis, Selamat berkarya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar