Selasa, 06 Januari 2015

[Book Review] Mata Yang Enak Dipandang - Ahmad Tohari

Judul               : Mata Yang Enak Dipandang
Penulis            : Ahmad Tohari
Halaman         : 215 Halaman
Penerbit         : Gramedia Pustaka

Saya selalu suka membaca cerpen karena tidak membutuhkan waktu lama untuk membacanya, tulisannya tidak panjang namun kadang penuh makna. Saya pribadi selalu mengagumi orang-orang yang bisa menulis cerpen dengan baik. Penulis yang di dalam ruang cerpen yang terbatas bisa dengan tepat mengeluarkan ide dan menyampaikan sebuah pesan di dalam cerpennya. Saya rasa menulis cerpen bukanlah sesuatu yang mudah, meski mungkin banyak orang yang menyepelekannya.

Buku kumpulan cerpen yang kemarin selesai saya baca adalah buku ini, Mata Yang Enak Dipandang karya Ahmad Tohari. Ini adalah kali pertama saya membaca buku karya Ahmad Tohari. Harus diakui bahwa saya jatuh hati pada tulisan Ahmad Tohari. Dari awal selain menyukai tulisan-tulisan tentang cinta, saya juga menyukai tulisan-tulisan yang mengangkat tema-tema sosial, dan saya mendapatkannya dalam buku Ahmad Tohari ini.

Cerpen-cerpen yang ada dalam buku ini bertemakan sosial, khususnya tentang kehidupan orang-orang kecil atau kalangan bawah. Hal ini menarik, karena Ahmad Tohari menulis cerpen-cerpen tersebut dengan baik, ia seperti sangat mengenal mereka dengan baik. Penceritaan yang diberikan Ahmad Tohari dalam cerpen-cerpen tersebut sangat menyentuh bagi saya.

Cerita-cerita dalam cerpen ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari saya. Cerita tentang para pengamen, anak jalanan, orang miskin, dan kehidupan orang kampung. Kehidupan yang penuh lika-liku. Dalam setiap cerpen dalam buku ini Ahmad Tohari mengirimkan pesan, membuat saya merenungi akhir dari setiap kisahnya.

Cerita yang paling saya sukai adalah bukan cerita dengan judul seperti judul buku ini, namun yang paing saya sukai adalah cerita dengan judul Akhirnya Karsim Menyeberang Jalan. Dalam cerpen tersebut Ahmad Tohari dengan jelas menggambarkan betapa egoisnya para pengendara di tengah jalan. Mereka yang merasa menguasai jalanan. Mereka yang tidak perduli dengan para pejalan kaki. Mereka yang enggan melambatkan kendaraannya untuk memberikan jalan bagi pejalan kaki untuk menyeberang. Cerpen tersebut menceritakan tentang seorang bapak tua yang ingin menyeberang jalan untuk sampai ke sawahnya yang tidak seberapa. Ia sudah menunggu lama di tepi jalan untuk menyeberang. Namun kesempatan untuk menyeberang tak juga didapat, sampai akhirnya ia memutuskan untuk menyeberang. Namun naas tak bisa ditolak, sedetik kemudian ia terlindas kendaraan di jalan raya tersebut dan menjadi sebab kematiannya. Kisah ini menyedihkan.

Ahmad Tohari menulis:

“Wajah-wajah pengendara adalah wajah para raja jalanan. Wajah-wajah yang mengusung semua lambang kekotaan; keakuan yang kental, manja dan kemaruk luar biasa. Pamer.”

“Wajah-wajah orang yang pegang kemudi atau motor adalah wajah-wajah yang keras dan tegang. Mereka mengusung semua lambing kekotaan; maunya menang sendiri.”

Saya rasa mungkin banyak dari kita ketika berada di jalan raya menjadi seperti apa yang disebutkan Ahmad Tohari.



Secara keseluruhan buku ini bagus, syarat pesan. Cukup untuk membuka pikiran kita tentang orang-orang di sekitar kita. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar