Minggu, 21 Desember 2014

Tentang Buku, Antara Pramoedya Ananta Toer dan Soe Hok Gie

Kalau minggu-minggu kemarin saya banyak membaca buku-buku kumpulan cerpen.  Buku-buku yang bisa habis dalam sehari karena tidak menuntut pemikiran yang mendalam untuk dapat memahaminya.  Namun minggu ini saya membaca buku yang agak berat, meminta perhatian dan pemikiran yang mendalam untuk dapat memahaminya. Tak ada alasan khusus yang membuat saya memilih membaca buku-buku ini. Namun buku-buku ini adalah buku yang sudah lama ingin say abaca dan baru tersampaikan sekarang. Minggu ini ada dua buku yang telah habis saya baca, yang pertama adalah Jejak Langkah karangan  Pramoedya Ananta Toer, ini adalah buku ketiga dari Tetralogi Buru karangannya. Buku kedua adalah buku karangan Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, dengan cover baru yang saya dapatkan dengan harga diskon sewaktu pameran buku beberapa waktu lalu.

Tetralogi Buru adalah buku yang sudah lama saya cari dan saya sangat ingin membacanya . Beruntung mbah putri punya koleksinya dan bersedia meminjamkannya pada saya. Membaca buku ini membuat saya semakin mengagumi sosok pengarangnya yang telah menghantarkan saya pada pemahaman bahwa sebagai seorang terpelajar kau harus tau hak-hak dan kewajibanmu terhadap sesama manusia, terhadap Bangsa dan Negara, dan betapa kegiatan menulis itu adalah bekerja untuk keabadian. Buku kesatu Tetralogi Buru “Bumi Manusia”  merupakan tahap perkenalan, periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator, keturunan priyayi Jawa yang sangat ingin bebas dan merdeka untuk membantu Bangsanya,  mengangkat martabat Bangsanya. Buku kedua “Anak Semua Bangsa” adalah periode observasi yang dilakukan Minke untuk mencari serangkaian spirit lapangan dan kehidupan arus bawah Pribumi yang tak berdaya melawan kekuatan raksasa Eropa. Dan buku ketiga yang baru saja selesai saya baca  “Jejak Langkah” merupakan periode dimana Minke memobilisasi segala daya untuk melawan kekuasaan Hindia yang telah berabad-abad di tanahnya airnya. Yang menarik adalah ia tidak melawan dengan senjata, namun melalui kegiatan jurnalistik, tulis-menulis.  Membuat sebanyak-banyaknya bacaan untuk Pribumi yang ditulis dengan bahasa ibunya sendiri.  Sebagai seorang yang terpelajar Minke berpikir bahwa harus ada orang yang memulai untuk membuat orang-orang Pribumi bangkit untuk melawan kekuasaan yang semena-mena dan menjajah. Dalam Jejak Langkah ini terekam langkah-langkah yang ditempuh Minke untuk membangkitkan semangat Bangsanya. Salah satunya adalah dengan jalan mendirikan organisasi Pribumi. Pribumi harus menjadi kuat , dan salah satu caranya adalah dengan organisasi. Mengertilah saya mengapa kita juga penting berorganisasi.

Buku selanjutnya adalah “Catatan Seorang Demonstran” yang ditulis oleh Soe Hok Gie, yaaa itu memang catatan harian dia. Berisi semua uneg-unegnya tentang pemuda, pelajar , organisasi, pemerintah. Dia begitu fenomenal karena seorang mahsiswa yang tak gentar menyampaikan kritikan dan pendapatnya terhadap pemerintah pada waktu itu. Terlebih lagi dia mati muda di puncak tertinggi Pulau Jawa.  Sosoknya yang terkenal membuat Mira Lesmana dan Riri Riza membuat Film tentang Gie ini. Dalam catatannya Gie banyak menyampaikan kritik pedas terhadap pemerintah. Mengabadikan kejadian-kejadian penting yang terjadi pada masa orde lama. Menyampaikan kekuatan para pemuda yang tidak dapat diremehkan. Terbuktilah bahwa pemudalah yang menjadi tolak ukur akan dibawa kemana suatu Bangsa.

Banyak sekali pemikirin-pemikiran yang menakjubkan, yang tertuang dalam buku ini. Yang sayapun tak pernah terpikirkan sebelumnya. Membaca tulisan-tulisan mereka sama dengan belajar sejarah, agar lebih tahu tentang Bangsa sendiri, agar lebih tahu peranan pemuda dalam masyarakatnya, agar lebih cinta pada Tanah Airnya. Sosok Pamoedya dan Gie memiliki banyak kemiripan walau beda generasi, mereka sama-sama menentang kesewenang-wenangan, sama-sama mencintai bangsanya, memiliki semangat tinggi untuk merubah lingkungannya menjadi lebih baik, dan mereka berdua menulis. Karya mereka adalah sumbangan berharga untuk Indonesia.

Saya termenung dan berpikir setiap selesai membaca kalimat-kalimat dalam buku-buku tersebut. Merasa tidak ada apa-apanya saya dibandingkan dua orang yang telah menulis dan pemberani seperti mereka. Sebagai pemuda yang hidup digenerasi sekarang ini, kita memiliki tugas yang lebih penting lagi. Kita tidak  lagi berperang melawan penjajah yang terang wujudnya, namun melawan kekuasaan penjajah yang tidak kasat mata.

“Setiap yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusan setiap orang yang berpikir”

--Pramoedya Ananta Toer-- 

[Book Review] Jadian 6 Bulan - Rhein Fathia

Judul               : Jadian 6 Bulan
Penulis             : Rhein Fathia
Halaman          : 190 Hal.
Penerbit           : DAR! Mizan

Buku ini berlatar belakang kehidupan remaja SMA, tentang kisah cinta. Kisah antara Tiara dengan Rio. Tiara dan Rio adalah anak SMA kelas XI, bersekolah di SMA yang sama, SMA Negeri 1 Bogor. Kehebohan yang menggemparkan seisi sekolah terjadi lantaran Tiara dan Rio jadian. Ya mereka jadian, status pacaran. Jadian mereka menjadi heboh karena latar belakang mereka yang sangat berbeda. Tiara sang gadis cantik, seorang jilbaber, aktivis Rohis, sedangkan Rio seorang bintang basket dan dipuja banyak gadis-gadis, dan dia sering dekat dengan cewek-cewek itu walaupun tidak pernah berpacaran dengan mereka.

Berita jadiannya mereka, menyebar dengan cepat ke penjuru sekolah. Banyak yang tidak menyangka kalau mereka akan jadian. Banyak yang menghujat terutama cewe-cewek yang dulunya naksir Rio atau pernah dekat dengan Rio, mereka menyindir Tiara sebagai cewek munafik. Teman-teman Tiara sesama aktivis Rohis pun tak kalah kaget, mereka mengejar penjelasan Tiara, namun Tiara belum bisa memberikan penjelasannya karena ia pikir belum waktunya.

Rio nembak Tiara jadi pacarnya karena tantangan dari teman-temannya sesama tim basket. Tiara dipilih sebagai tantangan karena Tiara adalah cewek yang tidak pernah pacaran sekalipun dan dia tidak mudah disentuh. Ternyata Tiara pun memiliki misi tersendiri mengapa ia mau jadian dengan Rio. Tiara ingin melaksanakan dakwah, ingin mengetahui lebih dalam tentang kehidupan para remaja yang maish jauh dengan ajaran Islam, sehingga dapat mengetahui cara berdakwah terbaik dalam dunia mereka.

Setelah mereka jadian, yang terjadi adalah Rio jadi beneran naksir Tiara. Ketika itu muncullah Shendi kakak Rio yang juga adalah cowok yang ditaksir Tiara, karena kesholehannya. Dan ternyata Shendi pun diam-diam menaruh hati pada Tiara. Namun mereka sama-sama memilih untuk mengubur perasaan masing-masing. Shendi pun memilih mengalah demi adik satu-satunya, karena ia melihat Rio berubah semakin baik setelah dekat dengan Tiara.

Rio jatuh cinta pada Tiara. Jatuh hati pada ketegasan, tutur lembut, dan pesona Tiara. Tiara ternyata mampu menjadikan Rio jadi lebih baik dan lebih dekat dengan Islam. Pada bulan ke enam Rio memutuskan hubungannya dengan Tiara, karena Rio telah sadar bahwa sebaik-baik Cinta hanya untuk Allah.

“Cinta bukanlah permainan. Apa pun alasannya, Cinta bukanlah sarana pertaruhan gengsi.”

Saya membaca buku ini hanya dalam waktu semalam, selain tipis namun juga lebih karena penasaran dengan kisah Tiara dan Rio selanjutnya membuat tidak bisa berhenti. Sampul novel ini keren, kece abis deh, remaja banget. Termasuk telat juga baru bisa baca novel ini sekarang (kemarin kemana aja neng :D).

Di novel ini Rhein Fathia sukses menyebarkan dakwah islam dengan tidak menggurui. Alur di novel ini mengalir dengan baik dan sangat pas. Walaupun Rhein Fathia masih muda namun dia peduli dengan para remaja dan selalu ada dakwah islam di dalam novel-novelnya, ini sesuatu yang spesial menurut saya.

Novel ini harus dibaca oleh remaja-remaja yang sedang bertumbuh, agar kau tahu bahwa cinta itu bukanlah suatu permainan. Untuk orang-orang yang peduli dengan generasi penerus. Novel ini media yang bagus untuk memberi pelajaran kepada para remaja aturan tentang hubungan laki-laki dan perempuan, tentang pacaran dalam islam.



Dapatkan novel ini di toko-toko buku. Buku ini telah di re-publish tahun 2013, setelah sebelumnya pertama kali terbit di tahun 2005

Memang benar seperti komentar Benny Rhamdani (penulis serial Kelas Ajaib), saya juga akan mengatakan demikian:

“Ceritanya seru, bikin penasaran. Baca sampai habis!”

[Book Review] Dikatakan Atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta - Tere Liye

Judul               : Dikatakan Atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta – Kumpulan Sajak
Penulis            : Tere Liye
Halaman         : 72 Halaman
Penerbit         : Gramedia Pustaka

Ini kali pertama Tere Liye mengeluarkan buku kumpulan sajak. Sebuah buku kumpulan sajak yang dilengkapi dengan ilustrasi untuk masing-masing sajak. Buku ini tipis. Bisa dibaca hanya dengan sekali duduk. Sajak-sajak yang ada dalam buku ini sebagian besar sudah ditulis Tere Liye di fanpage facebooknya “Darwis Tere Liye”, jadi jangan hawatir untuk yang tidak punya uang untuk membeli buku ini. Tapi karena tipis, buku ini terbilang murah, harganya kurang dari lima puluh ribu.

Meski sajak-sajak yang ada di dalam buku ini sudah di posting di fanpagenya Tere Liye, namun bagi saya pribadi tetap harus mengoleksi buku ini. Selain untuk menggenapkan koleksi saya dengan buku-buku Tere Liye, buku ini memang berharga untuk dikoleksi. Seperti tulisan-tulisan Tere Liye yang lain, sajak-sajak dalam buku ini juga penuh pelajaran, pelajaran tentang cinta, tentang hidup – bagi yang mau memikirkannya. Meski menurut saya Tere Liye lebih bagus dalam bernarasi panjang lebar seperti dalam novel. Sajak-sajak ini menjadi lebih spesial karena ada ilustrasi yang ciamik untuk setiap sajak.

Kalian tahu, saya paling suka dengan sajak yang berjudul “Sepotong Bulan Untuk Berdua”. Sajak ini tentang cinta. Cinta dua anak manusia yang berharap suatu saat bisa menikmati sepotong bulan berdua, ketika mereka telah siap. Mereka menyampaikannya dalam doa. Sajak ini menurut saya romantis sekali.


“Malam ini
Saat dikau menatap bulan
Yakinlah kita menatap bulan yang itu
Semoga Yang Maha Memiliki Langit memberikan kesempatan
Suatu saat nanti
Kita menatap bulan
Dari satu bingkai jendela.”
(penggalan sajak “Sepotong Bulan Untuk Berdua”)




Minggu, 07 Desember 2014

[Book Review] Hujan Bulan Juni, Sepilihan Sajak - Sapardi Djoko Damono

Judul       : Hujan Bulan Juni, Sepilihan Sajak
Penulis    : Sapardi Djoko Damono
Halaman : 120 Hal.
Penerbit  : Gramedia Pustaka

Mungkin tidak ada yang lebih awet dari hujan bulan juni. Tentangnya selalu melekat di pikiran orang-orang. Siapa yang tidak tahu puisi terkenal ini “ Hujan Bulan Juni” yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono. Diterbitkan lagi dalam bentuk buku bersama puisi-puisi Sapardi yang lain yang ditulis antara tahun 1959-1994. Harus diakui bahwa Sapardi adalah pujangga hujan. Ia tak pernah kehilangan kata-kata untuk melukiskan hujan. Banyak makna yang tersimpan dalam puisi-puisi yang ditulisnya. Tergantung dari persepsimu masing-masing untuk memaknainya, karena memang begitulah puisi. Tak pernah ada yang salah dengannya.  

Saya sudah lama menginginkan buku ini, dan akhirnya telah terwujud. Buku ini sudah menambah deretan koleksi buku-buku di kamar saya. Saya menyukai puisi. Sayapun menulis puisi sesukanya. Membaca puisi Sapardi yang romantis dan penuh makna membuat saya semakin bersemangat menulis puisi. Buku ini layak menjadi koleksi berharga.

Puisi-puisi terkenal Sapardi dirangkum di dalam buku ini, seperti Hujan Bulan Juni, Aku Ingin dan Pada Suatu Hari Nanti. Sapardi mewakili perasaan orang-orang yang jatuh cinta, orang-orang yang penuh harap, penuh kecewa, semangat dan pensaran melalui puisi-puisinya.


Selain Hujan Bulan Juni dan Aku Ingin, saya juga jatuh hati dengan puisi Sapardi yang berjudul Pada Suatu Hari Nanti.


“Pada Suatu Hari Nanti”

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari

(1991)