Selasa, 11 November 2014

[Book Review] Corat-Coret Di Toilet - Eka Kurniawan

Judul          : Corat-Coret Di Toilet
Penulis       : Eka Kurniawan
Halaman    : 121 Hal.
Penerbit     : Gramedia Pustaka
Saya membeli dan membaca buku ini tanpa rencana. Kadang dari rumah kita memiliki keinginan untuk membeli buku yang telah kita rencanakan jika ke toko buku, namun sesampainya di toko buku malah membeli buku yang lain. Itulah yang terjadi pada saya, saya berniat mencari buku yang lain tapi pulang dengan membawa tiga buah buku berbeda, dan salah satunya buku Corat-Coret Di Toilet ini.
Ini pertama kalinya saya membaca buku Eka Kurniawan. Maafkan saya. Saya tahu Eka Kurniawan dari blognya (ekakurniawan.com) setelah tiba-tiba nyasar kesana. Dia seorang penulis, tulisan-tulisan di blognya banyak tentang buku-buku dan sastra. Dari tulisan-tulisannya di blog saya sudah suka dengan gaya menulisnya, lalu muncul keinginan untuk membaca bukunya. Namun keinginan tersebut selalu terkendala dengan hal-hal lain.
Buku ini telah diterbitkan pertama kali di tahun 2000, dengan judul yang sama diterbitkan kembali di tahun 2014 ini. Buku ini merupakan kumpulan cerita-cerita pendek yang kebanyakan membahas tentang masalah-masalah sosial dan politik. Tidak mengherankan memang karena Eka menulis cerita-cerita tersebut di tahun-tahun yang penuh pergolakan politik (1999-2000).
Gaya menulis Eka segar dan tidak melodramatik, menggelitik pikiran, membuat tersenyum dan membuat cemberut pada satu waktu. Dia banyak menyampaikan protes-protes melalui cerita-ceritanya. Mengangkat persoalan-persoalan sosial di dalamnya. Cerita-cerita di dalamnya juga banyak memberikan unsur-unsur komedi, menghibur namun mengena.
Protes  politik yang paling terlihat itu ada di dalam cerita yang berjudul “Corat-Coret Di Toilet”. Cerita ini menceritakan tentang tulisan berantai yang tercipta di toilet, yang berawal dari keisengan salah satu mahasiswa yang sedang melakukan hajatnya di toilet. Tulisan tersebut kemudian disambung oleh mahasiswa-mahasiswa lain yang ke toilet tersebut. Tulisan-tulisan tersebut bermacam-macam, berisi kalimat-kalimat protes atas pemerintahan, kalimat-kalimat provokatif, sampai kalimat-kalimat aneh macam “Mau kencan denganku? Jemput di hotel”. Salah satu kalimat yang paling menohok sebagai protes adalah
“Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet”
Saya mikir sekaligus senyum membaca cerita ini, mengingat tulisan-tulisan macam ini masih banyak sampai sekarang, di dinding-dinding pagar, dinding rumah tak berpenghuni dan di toilet.
Satu lagi cerita yang berkesan buat saya yaitu cerita terakhir di buku ini yaitu “Kandang Babi”. Di cerita ini Eka berhasil mengangkat sebuah fenomena sosial yang terlihat remeh namun ternyata setelah membaca cerita ini meyakinkan saya bahwa hal tersebut dapat menjadi sebuah masalah sosial. Cerita ini menceritakan tentang seorang mahasiswa yang tidak serius kuliah, sudah belasan semester ia jalani di kampus. Tidak kunjung lulus. Dan mahasiswa itu menjadikan bekas gudang penyimpanan yang ia sebut seperti kandang babi sebagai markasnya, alias tempat tidurnya, pasalnya gratis. Ternyata di kampus bukan hanya dia yang melakukan hal tersebut, banyak lagi mahasiswa lain yang melakukan hal serupa di fakultas-fakultas lain di kampusnya. Suatu ketika ia terusir dari tempat yang ia sangka akan menjadi miliknya selamanya. Iapun bingung mencari tempat tinggal, pulang tak mungkin, karena ia sudah terlanjur malu.
Fenomena tersebut memang sampai sekarang masih banyak terjadi. Banyak mahasiswa yang menjadikan ruangan-ruangan kosong di kampus sebagai tempat tidur mereka, tentu secara diam-diam, gratisnyalah yang mereka cari. Ini bisa menjadi masalah di kampus, masalah sosial.

Saya menghabiskan buku ini dalam waktu dua jam, sambil menunggu mood yang baik datang untuk mengerjakan rencana penelitian. 
Saya berencana membaca buku Eka yang lain, terutama novel-novelnya, “Cantik Itu Luka” dan “Seperti Dendam, Rindu Harus Di Bayar Tuntas”
Selamat Membaca

Tidak ada komentar:

Posting Komentar