Selasa, 11 November 2014

[Book Review] Assalamualaikum Beijing! - Asma Nadia

Judul : ASSALAMUALAIKUM BEIJING!
Penulis : Asma Nadia
Halaman : 342 Hal.
Penerbit : Noura Books
Laki-laki, dimana kau sandera kegagahan yang biasa menyelimuti kata-katamu ?
Adakah yang lebih sakit daripada dikhianati ?
Dikhianati, itulah yang dirasakan Ra ketika satu bulan menjelang pernikahan Dewa memberikan pernyataan bahwa dia telah menghianati cinta Ra dengan perempuan lain. Kesalahan besar yang telah dilakukan Dewa tidak dapat ditolerir oleh perempuan manapun. Ra sebagai perempuan yang mandiri, cerdas, penuh cinta kasih, dan berjiwa sosial yang telah memberikan cinta dan kesetiaannya hanya untuk Dewa merasa gagal. Setelah membina hubungan bertahun-tahun, akhirnya harus berakhir dengan kenyataan pahit pengkhianatan. Walau harus menahan perih dan rasa malu, Ra memutuskan dan mengharuskan Dewa bertanggung jawab atas perbuatannya.
Patah hati ? jelas. Namun Ra memilih Move On, hijrah dari air mata kepada sukacita. Hijrah dari kekecewaan dengan memaafkan. Ra menjadi sosok yang lebih dekat kepada sang pencipta, bersyukur karena masih banyak hal yang harus disyukuri daripada harus meratapi patah hati.
“Tak akan kau temukan aku terkapar sebab kekalahan serupa api bagiku yang membakar belukar di tiap jalan”
Datanglah Cinta …
“Jika tak kau temukan cinta, biarkan cinta yang menemukanmu”
Siapa sangka pertemuan Asma dengan Zhongwen di Beijing membawa Asma pada perasaan yang sudah lama ingin ia lupakan. Sebagai laki-laki pengagum mitologi, Zhongwen ibarat kesatria tanpa kuda. Sikapnya santun dan perangainya gagah, tapi langkahnya tak tentu arah. Ia berburu sampai negeri jauh untuk mencari Tuhan sekaligus menemukan Asma, anak panah yang sanggup meruntuhkan tembok besar yang membentengi hatinya. Disatu sisi Asma berjuang melupakan Zhongwen yang diam-diam memujanya. Karena Asma juga harus berjuang melawan Antiphospholipid Syndrome (APS) sebuah penyakit pembekuan darah tiba-tiba yang belum diketahui penyebabnya sehingga sulit untuk disembuhkan. Namun Asma bukanlah orang yang mudah menyerah, ia semangat menjalani pengobatan untuk meringankan sakitnya. Harapan untuk mendapatkan cinta dan menikahpun kandas.
“Cinta apa yang kau tawarkan?
Yang berakhir pada duka?
atau bermuara di kedalaman jiwa?”
Takdir memang tidak ada yang tahu. Perasaan Zhongwen akan kerinduan pada cahaya Tuhan dan kerinduan tuk menemukan Asma membawanya sampai Indonesia. Melihat keadaan Asma yang sedang sakit tak mengurungkan niatnya untuk menikahi gadis itu.
“Bersabar itu cinta, tergesa-gesa itu nafsu”
Ra telah menjelma menjadi Asma yang hidup bahagia dengan cintanya yang membuat dia berarti, yang menerima semua kekurangan dan kelebihannya.
Novel ini novel yang inspiratif buat saya, banyak sekali pelajaran di dalamnya. Tentang bagaimana menghadapi patah hati, mengelola perasaan, menghadapi ujian sakit, move on dari perasaan yang membawa mudharat, dan tentang kekuatan seorang ibu. Beberapa bagian saya menangis membaca novel ini , hehe…
Awalnya bingung karena saya pikir tokoh utama dalam novel ini ada dua yaitu Ra dan Asma, namun ternyata mereka adalah satu orang yang memiliki nama panjang Asmara. Yang menarik di setiap memasuki lembar cerita baru selalu ada quote yang bikin hati makjleb :D

“Aku tak ragu mengatakan, bersama denganmu walaupun
sebatas embusan angin kunamai ia anugerah”
:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar