Minggu, 21 Desember 2014

Tentang Buku, Antara Pramoedya Ananta Toer dan Soe Hok Gie

Kalau minggu-minggu kemarin saya banyak membaca buku-buku kumpulan cerpen.  Buku-buku yang bisa habis dalam sehari karena tidak menuntut pemikiran yang mendalam untuk dapat memahaminya.  Namun minggu ini saya membaca buku yang agak berat, meminta perhatian dan pemikiran yang mendalam untuk dapat memahaminya. Tak ada alasan khusus yang membuat saya memilih membaca buku-buku ini. Namun buku-buku ini adalah buku yang sudah lama ingin say abaca dan baru tersampaikan sekarang. Minggu ini ada dua buku yang telah habis saya baca, yang pertama adalah Jejak Langkah karangan  Pramoedya Ananta Toer, ini adalah buku ketiga dari Tetralogi Buru karangannya. Buku kedua adalah buku karangan Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, dengan cover baru yang saya dapatkan dengan harga diskon sewaktu pameran buku beberapa waktu lalu.

Tetralogi Buru adalah buku yang sudah lama saya cari dan saya sangat ingin membacanya . Beruntung mbah putri punya koleksinya dan bersedia meminjamkannya pada saya. Membaca buku ini membuat saya semakin mengagumi sosok pengarangnya yang telah menghantarkan saya pada pemahaman bahwa sebagai seorang terpelajar kau harus tau hak-hak dan kewajibanmu terhadap sesama manusia, terhadap Bangsa dan Negara, dan betapa kegiatan menulis itu adalah bekerja untuk keabadian. Buku kesatu Tetralogi Buru “Bumi Manusia”  merupakan tahap perkenalan, periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator, keturunan priyayi Jawa yang sangat ingin bebas dan merdeka untuk membantu Bangsanya,  mengangkat martabat Bangsanya. Buku kedua “Anak Semua Bangsa” adalah periode observasi yang dilakukan Minke untuk mencari serangkaian spirit lapangan dan kehidupan arus bawah Pribumi yang tak berdaya melawan kekuatan raksasa Eropa. Dan buku ketiga yang baru saja selesai saya baca  “Jejak Langkah” merupakan periode dimana Minke memobilisasi segala daya untuk melawan kekuasaan Hindia yang telah berabad-abad di tanahnya airnya. Yang menarik adalah ia tidak melawan dengan senjata, namun melalui kegiatan jurnalistik, tulis-menulis.  Membuat sebanyak-banyaknya bacaan untuk Pribumi yang ditulis dengan bahasa ibunya sendiri.  Sebagai seorang yang terpelajar Minke berpikir bahwa harus ada orang yang memulai untuk membuat orang-orang Pribumi bangkit untuk melawan kekuasaan yang semena-mena dan menjajah. Dalam Jejak Langkah ini terekam langkah-langkah yang ditempuh Minke untuk membangkitkan semangat Bangsanya. Salah satunya adalah dengan jalan mendirikan organisasi Pribumi. Pribumi harus menjadi kuat , dan salah satu caranya adalah dengan organisasi. Mengertilah saya mengapa kita juga penting berorganisasi.

Buku selanjutnya adalah “Catatan Seorang Demonstran” yang ditulis oleh Soe Hok Gie, yaaa itu memang catatan harian dia. Berisi semua uneg-unegnya tentang pemuda, pelajar , organisasi, pemerintah. Dia begitu fenomenal karena seorang mahsiswa yang tak gentar menyampaikan kritikan dan pendapatnya terhadap pemerintah pada waktu itu. Terlebih lagi dia mati muda di puncak tertinggi Pulau Jawa.  Sosoknya yang terkenal membuat Mira Lesmana dan Riri Riza membuat Film tentang Gie ini. Dalam catatannya Gie banyak menyampaikan kritik pedas terhadap pemerintah. Mengabadikan kejadian-kejadian penting yang terjadi pada masa orde lama. Menyampaikan kekuatan para pemuda yang tidak dapat diremehkan. Terbuktilah bahwa pemudalah yang menjadi tolak ukur akan dibawa kemana suatu Bangsa.

Banyak sekali pemikirin-pemikiran yang menakjubkan, yang tertuang dalam buku ini. Yang sayapun tak pernah terpikirkan sebelumnya. Membaca tulisan-tulisan mereka sama dengan belajar sejarah, agar lebih tahu tentang Bangsa sendiri, agar lebih tahu peranan pemuda dalam masyarakatnya, agar lebih cinta pada Tanah Airnya. Sosok Pamoedya dan Gie memiliki banyak kemiripan walau beda generasi, mereka sama-sama menentang kesewenang-wenangan, sama-sama mencintai bangsanya, memiliki semangat tinggi untuk merubah lingkungannya menjadi lebih baik, dan mereka berdua menulis. Karya mereka adalah sumbangan berharga untuk Indonesia.

Saya termenung dan berpikir setiap selesai membaca kalimat-kalimat dalam buku-buku tersebut. Merasa tidak ada apa-apanya saya dibandingkan dua orang yang telah menulis dan pemberani seperti mereka. Sebagai pemuda yang hidup digenerasi sekarang ini, kita memiliki tugas yang lebih penting lagi. Kita tidak  lagi berperang melawan penjajah yang terang wujudnya, namun melawan kekuasaan penjajah yang tidak kasat mata.

“Setiap yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusan setiap orang yang berpikir”

--Pramoedya Ananta Toer-- 

[Book Review] Jadian 6 Bulan - Rhein Fathia

Judul               : Jadian 6 Bulan
Penulis             : Rhein Fathia
Halaman          : 190 Hal.
Penerbit           : DAR! Mizan

Buku ini berlatar belakang kehidupan remaja SMA, tentang kisah cinta. Kisah antara Tiara dengan Rio. Tiara dan Rio adalah anak SMA kelas XI, bersekolah di SMA yang sama, SMA Negeri 1 Bogor. Kehebohan yang menggemparkan seisi sekolah terjadi lantaran Tiara dan Rio jadian. Ya mereka jadian, status pacaran. Jadian mereka menjadi heboh karena latar belakang mereka yang sangat berbeda. Tiara sang gadis cantik, seorang jilbaber, aktivis Rohis, sedangkan Rio seorang bintang basket dan dipuja banyak gadis-gadis, dan dia sering dekat dengan cewek-cewek itu walaupun tidak pernah berpacaran dengan mereka.

Berita jadiannya mereka, menyebar dengan cepat ke penjuru sekolah. Banyak yang tidak menyangka kalau mereka akan jadian. Banyak yang menghujat terutama cewe-cewek yang dulunya naksir Rio atau pernah dekat dengan Rio, mereka menyindir Tiara sebagai cewek munafik. Teman-teman Tiara sesama aktivis Rohis pun tak kalah kaget, mereka mengejar penjelasan Tiara, namun Tiara belum bisa memberikan penjelasannya karena ia pikir belum waktunya.

Rio nembak Tiara jadi pacarnya karena tantangan dari teman-temannya sesama tim basket. Tiara dipilih sebagai tantangan karena Tiara adalah cewek yang tidak pernah pacaran sekalipun dan dia tidak mudah disentuh. Ternyata Tiara pun memiliki misi tersendiri mengapa ia mau jadian dengan Rio. Tiara ingin melaksanakan dakwah, ingin mengetahui lebih dalam tentang kehidupan para remaja yang maish jauh dengan ajaran Islam, sehingga dapat mengetahui cara berdakwah terbaik dalam dunia mereka.

Setelah mereka jadian, yang terjadi adalah Rio jadi beneran naksir Tiara. Ketika itu muncullah Shendi kakak Rio yang juga adalah cowok yang ditaksir Tiara, karena kesholehannya. Dan ternyata Shendi pun diam-diam menaruh hati pada Tiara. Namun mereka sama-sama memilih untuk mengubur perasaan masing-masing. Shendi pun memilih mengalah demi adik satu-satunya, karena ia melihat Rio berubah semakin baik setelah dekat dengan Tiara.

Rio jatuh cinta pada Tiara. Jatuh hati pada ketegasan, tutur lembut, dan pesona Tiara. Tiara ternyata mampu menjadikan Rio jadi lebih baik dan lebih dekat dengan Islam. Pada bulan ke enam Rio memutuskan hubungannya dengan Tiara, karena Rio telah sadar bahwa sebaik-baik Cinta hanya untuk Allah.

“Cinta bukanlah permainan. Apa pun alasannya, Cinta bukanlah sarana pertaruhan gengsi.”

Saya membaca buku ini hanya dalam waktu semalam, selain tipis namun juga lebih karena penasaran dengan kisah Tiara dan Rio selanjutnya membuat tidak bisa berhenti. Sampul novel ini keren, kece abis deh, remaja banget. Termasuk telat juga baru bisa baca novel ini sekarang (kemarin kemana aja neng :D).

Di novel ini Rhein Fathia sukses menyebarkan dakwah islam dengan tidak menggurui. Alur di novel ini mengalir dengan baik dan sangat pas. Walaupun Rhein Fathia masih muda namun dia peduli dengan para remaja dan selalu ada dakwah islam di dalam novel-novelnya, ini sesuatu yang spesial menurut saya.

Novel ini harus dibaca oleh remaja-remaja yang sedang bertumbuh, agar kau tahu bahwa cinta itu bukanlah suatu permainan. Untuk orang-orang yang peduli dengan generasi penerus. Novel ini media yang bagus untuk memberi pelajaran kepada para remaja aturan tentang hubungan laki-laki dan perempuan, tentang pacaran dalam islam.



Dapatkan novel ini di toko-toko buku. Buku ini telah di re-publish tahun 2013, setelah sebelumnya pertama kali terbit di tahun 2005

Memang benar seperti komentar Benny Rhamdani (penulis serial Kelas Ajaib), saya juga akan mengatakan demikian:

“Ceritanya seru, bikin penasaran. Baca sampai habis!”

[Book Review] Dikatakan Atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta - Tere Liye

Judul               : Dikatakan Atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta – Kumpulan Sajak
Penulis            : Tere Liye
Halaman         : 72 Halaman
Penerbit         : Gramedia Pustaka

Ini kali pertama Tere Liye mengeluarkan buku kumpulan sajak. Sebuah buku kumpulan sajak yang dilengkapi dengan ilustrasi untuk masing-masing sajak. Buku ini tipis. Bisa dibaca hanya dengan sekali duduk. Sajak-sajak yang ada dalam buku ini sebagian besar sudah ditulis Tere Liye di fanpage facebooknya “Darwis Tere Liye”, jadi jangan hawatir untuk yang tidak punya uang untuk membeli buku ini. Tapi karena tipis, buku ini terbilang murah, harganya kurang dari lima puluh ribu.

Meski sajak-sajak yang ada di dalam buku ini sudah di posting di fanpagenya Tere Liye, namun bagi saya pribadi tetap harus mengoleksi buku ini. Selain untuk menggenapkan koleksi saya dengan buku-buku Tere Liye, buku ini memang berharga untuk dikoleksi. Seperti tulisan-tulisan Tere Liye yang lain, sajak-sajak dalam buku ini juga penuh pelajaran, pelajaran tentang cinta, tentang hidup – bagi yang mau memikirkannya. Meski menurut saya Tere Liye lebih bagus dalam bernarasi panjang lebar seperti dalam novel. Sajak-sajak ini menjadi lebih spesial karena ada ilustrasi yang ciamik untuk setiap sajak.

Kalian tahu, saya paling suka dengan sajak yang berjudul “Sepotong Bulan Untuk Berdua”. Sajak ini tentang cinta. Cinta dua anak manusia yang berharap suatu saat bisa menikmati sepotong bulan berdua, ketika mereka telah siap. Mereka menyampaikannya dalam doa. Sajak ini menurut saya romantis sekali.


“Malam ini
Saat dikau menatap bulan
Yakinlah kita menatap bulan yang itu
Semoga Yang Maha Memiliki Langit memberikan kesempatan
Suatu saat nanti
Kita menatap bulan
Dari satu bingkai jendela.”
(penggalan sajak “Sepotong Bulan Untuk Berdua”)




Minggu, 07 Desember 2014

[Book Review] Hujan Bulan Juni, Sepilihan Sajak - Sapardi Djoko Damono

Judul       : Hujan Bulan Juni, Sepilihan Sajak
Penulis    : Sapardi Djoko Damono
Halaman : 120 Hal.
Penerbit  : Gramedia Pustaka

Mungkin tidak ada yang lebih awet dari hujan bulan juni. Tentangnya selalu melekat di pikiran orang-orang. Siapa yang tidak tahu puisi terkenal ini “ Hujan Bulan Juni” yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono. Diterbitkan lagi dalam bentuk buku bersama puisi-puisi Sapardi yang lain yang ditulis antara tahun 1959-1994. Harus diakui bahwa Sapardi adalah pujangga hujan. Ia tak pernah kehilangan kata-kata untuk melukiskan hujan. Banyak makna yang tersimpan dalam puisi-puisi yang ditulisnya. Tergantung dari persepsimu masing-masing untuk memaknainya, karena memang begitulah puisi. Tak pernah ada yang salah dengannya.  

Saya sudah lama menginginkan buku ini, dan akhirnya telah terwujud. Buku ini sudah menambah deretan koleksi buku-buku di kamar saya. Saya menyukai puisi. Sayapun menulis puisi sesukanya. Membaca puisi Sapardi yang romantis dan penuh makna membuat saya semakin bersemangat menulis puisi. Buku ini layak menjadi koleksi berharga.

Puisi-puisi terkenal Sapardi dirangkum di dalam buku ini, seperti Hujan Bulan Juni, Aku Ingin dan Pada Suatu Hari Nanti. Sapardi mewakili perasaan orang-orang yang jatuh cinta, orang-orang yang penuh harap, penuh kecewa, semangat dan pensaran melalui puisi-puisinya.


Selain Hujan Bulan Juni dan Aku Ingin, saya juga jatuh hati dengan puisi Sapardi yang berjudul Pada Suatu Hari Nanti.


“Pada Suatu Hari Nanti”

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari

(1991)


Selasa, 11 November 2014

Buku Yang Menemani Tahun 2013

1. Commited, A Love Story
2. Sunset Bersama Rosie
3. Negeri Di Ujung Tanduk
4. Muhammad, Para Pengeja Hujan
5. Couple Love
6. Burung Berpagut Emas
7. Istana Mimpi
8. Muhammad Al-Fatih 1453
9. Udah Putusin Aja
10. How To Master Your Habits
11. 99 Cahaya Di Langit Eropa
12. Catatan Hati Yang Cemburu
13. Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan
14. Karakteristik Peri Hidup 60 Sahabat Rasulullah (ongoing)
15. Bumi Manusia
16. Anak Semua Bangsa
17. Jejak Langkah
18. Rumah Kaca
19. Catatan Sang Demonstran, Soe Hok Gie
20. Rantau 1 Muara
21. Ayah, Kisah Buya Hamka
22. Rendra, Ia Tak Pernah Pergi
23. The Fault In Our Stars
24. Kinanthi
25. Bumiku, Please Jangan Kiamat Dulu
26. Cinta Di Ujung Jari
27. Milana, Perempuan Yang Menunggu Senja
28. Singgah
29. Assalamualaikum Beijing!
30. Salon Kepribadian, Jangan Jadi Muslimah Nyebelin
31. Cinta.
Targetnya sih 50 buku tapi enggak nyampe -,-

[Book and Film] The Fault in Our Stars - Jhon Green

Saya tahu ini terlambat, tapi tidak ada kata terlambat untuk share tentang ini. Ini adalah tentang sebuah film yang saya tonton semalam yaitu The Fault in Our Stars. Film ini diangkat dari novel karangan Jhon Green dengan judul yang sama. Sebelum filmnya dibuat saya sudah lama membaca buku ini. Waktu itu saya membelinya karena ada tulisan new york time best seller di sampulnya. Ini adalah kebiasaan saya jika bingung ingin membeli buku yang mana, maka saya akan memilih buku yang ada tulisan best sellernya. Ternyata setelah membaca bukunya harus diakui bukunya memang bagus walau terasa sedikit agak berat bahasanya, kebetulan saya membeli edisi terjemahan Indonesianya. Di dalamnya banyak quote-quote yang romantis dan yang membangkitkan semangat. Karena memang bagus dan best seller akhirnya buku tersebut dibuat film. Awalnya saya tidak berniat menonton filmnya, karena menurut saya film yang diangkat dari buku terkadang tidak sebagus bukunya. Namun setelah berbulan-bulan lewat dari launching filmnya, semalam setelah ngopi dari teman dan sedang punya waktu luang saya menonton film ini.
Voila! filmnya keren sodara-sodara.
Mungkin karena saya adalah orang yang memang suka novel, drama, dan hal-hal yang romantis maka saya langsung suka film ini. Namun dalam film ini juga ada adegan komedinya, jadi jangan hawatir disini tetap ada hal-hal lucunya. Saya menonton film ini tanpa saya geser-geser untuk dipercepat. Film ini bercerita tentang penderita kanker, tokoh utamanya Hazel Grace dan Augustus Waters. Saya sangat suka mereka berdua. Hazel Grace sosok yang benar-benar menjadi dirinya sendiri, dia tidak hidup dalam impian orang lain. Dia memiliki pemikiran-pemikirannya sendiri tentang dunia dan hidupnya. Ia anak yang manis dan sangat mencintai keluarganya. Walau terkena kanker dia tidak merasa terpuruk meski disaat-saat kritis dia hampir kehilangan harapannya. Sedangkan Augustus Waters sosok yang periang, penuh senyum dan humoris. Kanker yang bersemayam dalam tubuhnya tidak menghilangkan senyum di wajahnya. Ia disayangi orang-orang termasuk sahabatnya Isaac dan begitupun sebaliknya. Kehadiran Augustus telah memberikan warna baru dalam hidup Hazel. Memberikan dukungan, semangat, kasih sayang dan ikut mewujudkan impian Hazel untuk bertemu penulis favoritnya.

Namun kematian tetap saja menjadi hal yang menyedihkan. Augustus mati karena kanker yang semakin parah, meninggalkan Hazel yang masih harus berjuang melawan kankernya. Pidato pemakaman Hazel juara! berhasil membuat saya berderai airmata.
Hazel mengatakan:
“You gave me a forever within the numbered days. I cannot tell you how thankful I’am for our little infinity”
Original soundtrack dari film ini juga keren-keren dan pas banget sama filmnya. Bagi yang suka drama romantis tontonlah film ini, maka kalian akan mengerti. Jangan lupa baca bukunya juga ya.

[Book Review] Sabtu Bersama Bapak - Adhitya Mulya

Judul : Sabtu Bersama Bapak
Penulis : Adhitya Mulya
Halaman : 273 Hal.
Penerbit : Gagas Media
Pertama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Adithya Mulya yang telah menyajikan cerita yang kece dalam buku ini. Terima Kasih. Ini adalah pertama kalinya saya membaca buku Adhitya Mulya, yang diterbitkan oleh gagas media, biasanya setiap membaca buku terbitan gagas media saya merasa biasa-biasa saja, tapi tidak dengan buku tulisan Adhitya ini.
Ide cerita dalam novel ini segar dan menarik, membuatmu ingin segera menyelesaikannya. Banyak pesan moral di dalamnya, sederhana tapi mengena, tidak terasa menggurui. Membaca buku ini membuat saya seperti seorang anak yang sedang dinasehati orang tua yang bijaksana.
Novel ini bercerita tentang sebuah keluarga. Sang bapak merekam banyak video dirinya sendiri, dalam video dia memberikan nasihat-nasihat dan berbagai cerita yang ditujukan untuk anak-anaknya juga istrinya. Ini ia lakukan ketika ia divonis akan segera berpulang karena sakit yang ia derita. Anak-anaknya tumbuh dengan baik, mereka menemukan cintanya sendiri dan menjadi kuat.
Selain itu banyak juga bagian-bagian lucu dalam novel ini, email-emailan lucu yang membuat saya terbahak. Dialog-dialognya ringan, tidak susah untuk dimenegrti. Saya rasa kekuatan Adhitya adalah ada dalam dialog-dialog yang ia ciptakan. Dialog-dialognya terasa pas dan membuatmu ingin meneruskan sampai habis.
Saya rekomendasikan novel ini untuk kalian baca, terlebih untuk para laki-laki sebagai calon suami dan calon bapak. Di dalamnya akan kalian rasakan kehangatan hubungan antara anak dan orangtua, suami dan istri, adik dan kakak. Akan membuatmu merasa sangat bersyukur memiliki keluarga. Silahkan dibaca dan rasakan sendiri keistimewaannya.
“Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…., tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.”

[Book Review] Kukila - M. Aan Mansyur

Judul : Kukila
Penulis : M. Aan Mansyur
Halaman : 184 Hal.
Penerbit : Gramedia Pustaka
Kukila, terdengar seperti nama seorang gadis. Memang begitulah adanya kukila adalah nama seorang gadis di dalam salah satu cerita di buku ini. Kukila menjadi judul buku ini karena Kukila merupakan cerita utama yang lebih panjang dari cerita-cerita lainnya di buku ini. Sejatinya buku ini adalah buku kumpulan-kumpulan cerita.
Saya mengenal M. Aan Mansyur berawal dari aktifitas saya di twitter yang memfollow akun twitternya @hurufkecil. Di twitternya ia kerap kali ngetweet kalimat-kalimat romantis, celetukan, sindiran atau apapun, namun selalu terasa romantis. Hal ini juga diungkapkan seorang teman yang mengatakan bahwa ia adalah pria romantis, karena ternyata teman saya adalah adik tingkatnya di kampus dulu dan aktif di satu komunitas di Makassar.
Kukila adalah buku pertama Aan yang saya baca, padahal buku Aan sudah banyak, entah itu kumpulan cerita-cerita ataupun novel. Saya menyukai tulisan-tulisan Aan di buku ini, terasa sangat real, saya merasa Aan banyak menceritakan dirinya sendiri dalam buku ini. Dalam cerita-cerita di buku ini ia menuliskan hal-hal tentang cinta, patah hati, kehilangan, dan rindu. Ada satu cerita yang membuat saya merasa sedih yakni di cerita yang berjudul ” Setia adalah Pekerjaan yang Baik”. Di cerita itu Aan menceritakan tentang ayahnya yang telah lama meninggalkan keluraganya, namun ibunya tetap setia menunggu. Saya tidak menyangka kehidupan Aan seperti itu.
Aan menulis hal-hal yang tidak jauh-jauh dari urusan hati. Ia menulis dengan menyelipkan syair-syair dan seperti puisi, mungkin memang sudah menjadi jiwanya. Aan menulis dengan mengalir dan terselip kenakalan-kenalakan tersendiri di dalamnya.

Setelah memulai dengan buku ini, saya ingin membaca buku-buku Aan yang lain.

[Book Review] Corat-Coret Di Toilet - Eka Kurniawan

Judul          : Corat-Coret Di Toilet
Penulis       : Eka Kurniawan
Halaman    : 121 Hal.
Penerbit     : Gramedia Pustaka
Saya membeli dan membaca buku ini tanpa rencana. Kadang dari rumah kita memiliki keinginan untuk membeli buku yang telah kita rencanakan jika ke toko buku, namun sesampainya di toko buku malah membeli buku yang lain. Itulah yang terjadi pada saya, saya berniat mencari buku yang lain tapi pulang dengan membawa tiga buah buku berbeda, dan salah satunya buku Corat-Coret Di Toilet ini.
Ini pertama kalinya saya membaca buku Eka Kurniawan. Maafkan saya. Saya tahu Eka Kurniawan dari blognya (ekakurniawan.com) setelah tiba-tiba nyasar kesana. Dia seorang penulis, tulisan-tulisan di blognya banyak tentang buku-buku dan sastra. Dari tulisan-tulisannya di blog saya sudah suka dengan gaya menulisnya, lalu muncul keinginan untuk membaca bukunya. Namun keinginan tersebut selalu terkendala dengan hal-hal lain.
Buku ini telah diterbitkan pertama kali di tahun 2000, dengan judul yang sama diterbitkan kembali di tahun 2014 ini. Buku ini merupakan kumpulan cerita-cerita pendek yang kebanyakan membahas tentang masalah-masalah sosial dan politik. Tidak mengherankan memang karena Eka menulis cerita-cerita tersebut di tahun-tahun yang penuh pergolakan politik (1999-2000).
Gaya menulis Eka segar dan tidak melodramatik, menggelitik pikiran, membuat tersenyum dan membuat cemberut pada satu waktu. Dia banyak menyampaikan protes-protes melalui cerita-ceritanya. Mengangkat persoalan-persoalan sosial di dalamnya. Cerita-cerita di dalamnya juga banyak memberikan unsur-unsur komedi, menghibur namun mengena.
Protes  politik yang paling terlihat itu ada di dalam cerita yang berjudul “Corat-Coret Di Toilet”. Cerita ini menceritakan tentang tulisan berantai yang tercipta di toilet, yang berawal dari keisengan salah satu mahasiswa yang sedang melakukan hajatnya di toilet. Tulisan tersebut kemudian disambung oleh mahasiswa-mahasiswa lain yang ke toilet tersebut. Tulisan-tulisan tersebut bermacam-macam, berisi kalimat-kalimat protes atas pemerintahan, kalimat-kalimat provokatif, sampai kalimat-kalimat aneh macam “Mau kencan denganku? Jemput di hotel”. Salah satu kalimat yang paling menohok sebagai protes adalah
“Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet”
Saya mikir sekaligus senyum membaca cerita ini, mengingat tulisan-tulisan macam ini masih banyak sampai sekarang, di dinding-dinding pagar, dinding rumah tak berpenghuni dan di toilet.
Satu lagi cerita yang berkesan buat saya yaitu cerita terakhir di buku ini yaitu “Kandang Babi”. Di cerita ini Eka berhasil mengangkat sebuah fenomena sosial yang terlihat remeh namun ternyata setelah membaca cerita ini meyakinkan saya bahwa hal tersebut dapat menjadi sebuah masalah sosial. Cerita ini menceritakan tentang seorang mahasiswa yang tidak serius kuliah, sudah belasan semester ia jalani di kampus. Tidak kunjung lulus. Dan mahasiswa itu menjadikan bekas gudang penyimpanan yang ia sebut seperti kandang babi sebagai markasnya, alias tempat tidurnya, pasalnya gratis. Ternyata di kampus bukan hanya dia yang melakukan hal tersebut, banyak lagi mahasiswa lain yang melakukan hal serupa di fakultas-fakultas lain di kampusnya. Suatu ketika ia terusir dari tempat yang ia sangka akan menjadi miliknya selamanya. Iapun bingung mencari tempat tinggal, pulang tak mungkin, karena ia sudah terlanjur malu.
Fenomena tersebut memang sampai sekarang masih banyak terjadi. Banyak mahasiswa yang menjadikan ruangan-ruangan kosong di kampus sebagai tempat tidur mereka, tentu secara diam-diam, gratisnyalah yang mereka cari. Ini bisa menjadi masalah di kampus, masalah sosial.

Saya menghabiskan buku ini dalam waktu dua jam, sambil menunggu mood yang baik datang untuk mengerjakan rencana penelitian. 
Saya berencana membaca buku Eka yang lain, terutama novel-novelnya, “Cantik Itu Luka” dan “Seperti Dendam, Rindu Harus Di Bayar Tuntas”
Selamat Membaca

[Book Review] Assalamualaikum Beijing! - Asma Nadia

Judul : ASSALAMUALAIKUM BEIJING!
Penulis : Asma Nadia
Halaman : 342 Hal.
Penerbit : Noura Books
Laki-laki, dimana kau sandera kegagahan yang biasa menyelimuti kata-katamu ?
Adakah yang lebih sakit daripada dikhianati ?
Dikhianati, itulah yang dirasakan Ra ketika satu bulan menjelang pernikahan Dewa memberikan pernyataan bahwa dia telah menghianati cinta Ra dengan perempuan lain. Kesalahan besar yang telah dilakukan Dewa tidak dapat ditolerir oleh perempuan manapun. Ra sebagai perempuan yang mandiri, cerdas, penuh cinta kasih, dan berjiwa sosial yang telah memberikan cinta dan kesetiaannya hanya untuk Dewa merasa gagal. Setelah membina hubungan bertahun-tahun, akhirnya harus berakhir dengan kenyataan pahit pengkhianatan. Walau harus menahan perih dan rasa malu, Ra memutuskan dan mengharuskan Dewa bertanggung jawab atas perbuatannya.
Patah hati ? jelas. Namun Ra memilih Move On, hijrah dari air mata kepada sukacita. Hijrah dari kekecewaan dengan memaafkan. Ra menjadi sosok yang lebih dekat kepada sang pencipta, bersyukur karena masih banyak hal yang harus disyukuri daripada harus meratapi patah hati.
“Tak akan kau temukan aku terkapar sebab kekalahan serupa api bagiku yang membakar belukar di tiap jalan”
Datanglah Cinta …
“Jika tak kau temukan cinta, biarkan cinta yang menemukanmu”
Siapa sangka pertemuan Asma dengan Zhongwen di Beijing membawa Asma pada perasaan yang sudah lama ingin ia lupakan. Sebagai laki-laki pengagum mitologi, Zhongwen ibarat kesatria tanpa kuda. Sikapnya santun dan perangainya gagah, tapi langkahnya tak tentu arah. Ia berburu sampai negeri jauh untuk mencari Tuhan sekaligus menemukan Asma, anak panah yang sanggup meruntuhkan tembok besar yang membentengi hatinya. Disatu sisi Asma berjuang melupakan Zhongwen yang diam-diam memujanya. Karena Asma juga harus berjuang melawan Antiphospholipid Syndrome (APS) sebuah penyakit pembekuan darah tiba-tiba yang belum diketahui penyebabnya sehingga sulit untuk disembuhkan. Namun Asma bukanlah orang yang mudah menyerah, ia semangat menjalani pengobatan untuk meringankan sakitnya. Harapan untuk mendapatkan cinta dan menikahpun kandas.
“Cinta apa yang kau tawarkan?
Yang berakhir pada duka?
atau bermuara di kedalaman jiwa?”
Takdir memang tidak ada yang tahu. Perasaan Zhongwen akan kerinduan pada cahaya Tuhan dan kerinduan tuk menemukan Asma membawanya sampai Indonesia. Melihat keadaan Asma yang sedang sakit tak mengurungkan niatnya untuk menikahi gadis itu.
“Bersabar itu cinta, tergesa-gesa itu nafsu”
Ra telah menjelma menjadi Asma yang hidup bahagia dengan cintanya yang membuat dia berarti, yang menerima semua kekurangan dan kelebihannya.
Novel ini novel yang inspiratif buat saya, banyak sekali pelajaran di dalamnya. Tentang bagaimana menghadapi patah hati, mengelola perasaan, menghadapi ujian sakit, move on dari perasaan yang membawa mudharat, dan tentang kekuatan seorang ibu. Beberapa bagian saya menangis membaca novel ini , hehe…
Awalnya bingung karena saya pikir tokoh utama dalam novel ini ada dua yaitu Ra dan Asma, namun ternyata mereka adalah satu orang yang memiliki nama panjang Asmara. Yang menarik di setiap memasuki lembar cerita baru selalu ada quote yang bikin hati makjleb :D

“Aku tak ragu mengatakan, bersama denganmu walaupun
sebatas embusan angin kunamai ia anugerah”
:)

[Book Review] Sepotong Hati Yang Baru - Tere Liye

Sejak tahu kalau akan ada buku Tere Liye terbaru berjudul “Sepotong Hati Yang Baru” yang akan terbit saya jadi enggak sabar dan menunggu-nunggu kapan buku itu terbit, dan akhirnya pada Oktober 2012 lalu buku itu diterbitkan. Tapi tiap kali ke toko buku saya selalu kehabisan, stok buku itu habis  , waah…berarti bukan cuma saya yang nungguin buku itu terbit yaa..
Penantian saya berakhir … (lebay :D), suatu malam saya ke toko buku, langsung menuju deretan buku baru dan buku itu ada…yaaaa buku itu ada, tanpa pikir panjang langsung deh saya ambil dan menuju kasir untuk membayar.
Buku ini merupakan kumpulan cerpen tentang kisah cinta (saya selalu suka kisah cinta J), serial dari buku sebelumnya “ Berjuta Rasanya”. Penasaran dengan kisah apalagi yang ditulis Tere Liye dalam bukunya maka sayapun langsung membaca buku ini sampai tuntas hanya dalam waktu satu malam, :D. Awalnya saya tertawa dan senyum-senyum sendiri membaca kisah pertama dalam buku ini, menurut saya sangat lucu, kisah ini kebanyakan menimpa anak muda, tentang rasa “GR” alias Gede Rasa sama seseorang padahal orang tsb tidak punya perasaan spesial sama sekali pada kita, pasti banyak yang sudah mengalaminya..hayyooo ngakuu.. :D. Emang sih rasa GR pasti ada pada setiap orang tapi saya rasa itu terjadi karena kita tidak bisa melihat keadaan atau sesuatu dengan baik, kita belum siap atas sesuatu tapi terlanjur membuat kesimpulan, harus hati-hati nih soalnya nanti kalau ternyata tidak nyata malah kecewa berat seperti dalam kisah ini…hehe
Begitu melanjutkan membaca kisah selanjutnya saya tidak lagi tertawa tapi malah berurai air mata, kisahnya menyesakkan L, apalagi kisah tentang sepotong hati yang baru dan buat apa disesali. Masing-masing kisah dalam buku ini memiliki pelajaran tersendiri, entah itu kisah yang berakhir bahagia, sedih ataupun menggantung selalu bermakna. Saya belajar banyak tentang perasaan melalui buku ini.
Gambar
“Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna. Jika kau memahami cinta adalah perasaan irasional, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga. Dengan mudah membenarkan apa pun yang terjadi di hati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kau tidak mampu mengendalikan perasaan itu”
:)


Lombok, November 2012